Feeds:
Tulisan
Komentar

Hari Ibu

menatap kesibukan yang tak pernah usai

ibu

Barangkali sedikit orang yang ingat bahwa hari ini adalah peringatan hari ibu yang ke 81 dan aku yakin lebih sedikit lagi orang yang mau menyisihkan secuil waktu untuk merayakannya. Untuk poin yang terakhir mungkin aku salah satu yang termasuk didalamnya karena memang sudah tak beribu lagi. Yah beliau telah berpulang beberapa tahun yang silam.

Beberapa hari yang lalu sebuah harian yang terbit di Surabaya merelease sebuah berita bahwa telah lebih dari seribu TKI yang tewas yang kebanyakan terjadi dinegeri tetangga, Malaysia. Ini tentu potret buram bagi dunia ketenaga-kerjaan kita dan berita yang sangat
menyedihkan dalam momentum peringatan hari ibu karena banyak dari mereka yang tewas diatas adalah wanita, calon maupun yang sudah menjadi ibu.

Menguliti peran seorang ibu dalam tatanan kehidupan sosial maupun dalam skup yang lebih kecil dalam sebuah keluarga, sungguh tak terbayangkan betapa vitalnya. Pantas Rosullalloh menegaskan dan mengulang sampai tiga kali saat seseorang menanyakan siapa yang lebih pantas dihormati. Kata ibu jugalah yang dicantumkan sebagai istilah dalam kota pusat pemerintahan, Ibukota. Juga dalam kata pengganti tanah air dengan menyebutnya sebagai Ibu Pertiwi.

Bagi kita yang sering bergelut dengan dunia komputer, peran seorang ibu tak ubahnya dengan sebuah chipset, yang keberadaannya seringkali terlupakan, tertimbun dibawah bayang bayang sebuah prosesor. Sebuah chipset adalah simpul dari segala kesibukan diatas motherboard. Ia adalah penghubung antara modul memori dengan prosesor, pengontrol semua port dan soket yang ada.
Demikian juga seorang ibu, dia adalah simpul dari aktivitas didalam sebuah keluarga. Dia menghubungkan antara pendapatan seorang Ayah dengan segala bentuk pengeluaran finansial, menguhubungkan antara apa yang kita butuhkan dengan kemampuan yang ada.
Kita mungkin tahunya sarapan pagi sudah siap tanpa pernah paham kesibukan dibalik dapur. Kita tahunya kemeja sudah tertata rapi di lemari tanpa pernah menyadari keringat beliau yang menetes saat mencuci. Apalagi bila pita waktu diputar jauh kebelekang saat selama 9 bulan beliau kemana-mana membawa “beban” tambahan, manghadapi perubahan hormonal dengan resiko tak begitu nyaman untuk menyantap makanan.

Didalam salah satu bilik kehidupan tak jarang seorang ibu harus keluar dari singgasananya, pergi keluar membantu sang ayah mengais rejeki, turut membantu berputarnya roda ekonomi. Tak ada dispensasi disini. Peran tradisionil mereka dalam urusan dapur, sumur dan kasur tetap harus dijalani. Kewajiban memberi nafkah bagi seorang ayah tak jarang hanya gayeng didalam area nafkah batiniah dan seakan lupa akan bentuk nafkah yang lain.
Nafkah lahir juga seringkali dipahami hanya sebatas ekonomi semata tanpa pernah sadar ada nafkah yang lain yang tak kalah pentingnya, nafkah tenaga. Perlu kebesaran hati untuk menyisihkan waktu, untuk meringankan beban yang harus ibu tanggung.

Selamat malam ibu, semoga engkau damai dalam kesendirianmu.
Selamat jalan pahlawan devisa, semoga hari ini banyak yang mengingat segala jasamu.
Selamat hari Ibu, tuk semua wanita yang telah luangkan waktu membuat dan menjadikan  keluarga bak puisi yang paling indah.

Gajah diantara Prita

buanglah sesuatu pada tempatnya ?

Binatang apa yang belakangan ini paling sering dibicarakan ?

Jawabnya tentu saja gajah. Lho koq ?

Yah, lihat saja di sudut-sudut taman, dipinggir jalan atau mungkin di suatu kantor pasti sering kita lihat tulisan GAJAHLAH KEBERSIHAN.  Terus apa hubungannya dengan Prita ?

Harapan yang terkandung dibalik tulisan gajahlah kebersihan so pasti agar kita bersedia membuang sesuatu pada tempatnya, semisal itu sampah ya seharusnya pada tempat sampah yang telah disediakan. Kalau nggak ya bakalan timbul masalah atau barangkali bisa berlanjut menjadi komplikasi.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui, beberapa waktu yang lalu seorang netter mempunyai keluhan tentang pelayanan sebuah instansi kesehatan dan menuliskan dalam sebuah email. Tanpa disangka ternyata keluhan ini oleh pihak RS dipermasalahkan dan berujung pada pengadilan. Oleh pengadilan keluhan ini dianggap tidak pada tempatnya, dianggap melanggar hukum baik pidana maupun perdata. Pengadilan negeri memutuskan sang netter, Prita didenda 312 juta yang selanjutnya oleh pengadilan tinggi didiskon menjadi “hanya” 204 juta.

Weleh, rong atus papat yuto iso nggo ngenet pirang wulan yo ?

Bila ingin membuang sampah seharusnya pada tempat yang telah disediakan yaitu tempat sampah, bagaimana bila ingin membuang suatu keluhan agar hati ini plong ? Coba bayangkan berapa meter kubik volume sampah psikis  orang se Indonesia bila tak tertangani dengan baik ?

Aku pikir keluhan ini termasuk sampah juga meski dalam versi yang berbeda, yang termasuk kategori sampah kejiwaan, yang bila tak segera dibuang bisa menyebabkan timbulnya penyakit. Minimum ya sakit kepala ataupun sakit hati. So sampah psikis ini seyogyanya di carikan wadah yang legal sebagai tempat pembuangan akhir agar tak banyak orang yang sering-sering mengelus dada ataupun menggaruk kepala tanpa sebab.

Saya kurang tahu masalah tempat sampah ini otoritas siapa, depkes sebagai lembaga yang bertanggung jawab memelihara kelestarian kesehatan rakyat ataukah dephum sebagai pemegang amanat masalah justisia. Saya juga kurang mengerti bagaimana bentuk fisik dari tempat sampah tersebut, menganut moderenitas dengan mengadopsi TI berupa penyediaan mailbox ataukah bergaya dunia lama dengan cara menuliskan segala keluhan pada secarik kertas, ditempelin perangko dan mengirimkannya ke alamat jalan Larakan gang mambu.

Yang jelas cara yang terakhir ini punya implikasi yang luas terhadap pertumbuhan ekonomi mikro dan makro sekaligus. Perangkonya dapat menghidupkan lagi PT POS sementara kertasnya bisa membuat umur para pemulung bertambah beberapa hari. Dan bagi dunia asuransi ini jelas lahan bisnis baru berupa perlindungan terhadap bahaya tuntutan balik.

Siapa sih yang ga ingin ngeblog dengan aman, yang tak ingin ngemail dan posting tanpa ada perasaan was-was ?

Kalau aku sih ingin ketemu Vierra saja, dengarlah curhatku.…………………………………………..

Pertahanan kolektif

komuniti

Sekawanan semut diantara rerumputan tengah dirundung gelisah. Daun terakhir dimusim gugur telah jatuh dan itu berarti bilangan waktu sudah habis. Masa untuk mengumpulkan makanan sudah berakhir dan saatnya mempersembahkan pada sang penguasa, segerombolan belalang dibawah kepemimpinan Hooper. Nasib kelam seperti itulah yang terjadi dari waktu ke waktu. Hidup tertindas dan hilangnya sebuah kemerdekaan.
Hasrat untuk melawan barangkali sempat mengendap dibenak mereka tapi apalah daya, belalang bukanlah lawan yang sepadan bagi tubuh mereka yang jauh lebih kecil………hingga suatu waktu terlahirlah  pahlawan, terlahirlah semut yang berani memberontak, melawan takdir kehidupan. Keberaniannya ternyata menjangkiti semua penghuni koloni untuk melawan sebuah hegemoni.
Demikianlah jalinan cerita dalam The Bug’s Life yang dipentaskan dengan apik oleh Pixar. Sebuah film anak-anak yang hikmahnya tersembul keluar hingga lintas usia.

Potret yang hampir sama, dari dunia yang berbeda sempat terjadi di negeri para dewa. Yunani bukanlah apa-apa di belantara sepak bola Eropa. Tak punya pemain yang termahal bahkan liga mereka tak bisa kita saksikan karena bisa jadi menurut ukuran bisnis televisi tak layak jual. Namun siapa sangka kiprah mereka di piala Eropa menorehkan sebuah sejarah, membawa pulang mahkota juara.

Seorang Prita mungkin bukanlah apa-apa dan juga bukanlah siapa-siapa. Dia tak ubahnya semut ditengah taman, nampak lemah untuk melawan ganasnya takdir kehidupan. Panggilan nurani telah membawa banyak mata hati membentuk pertahanan diri berdasarkan azas kolektivitas sebagaimana Yunani melawan semua  rintangan yang dihadapi.

Sebuah takdir atau mungkin bisa juga sebuah kedzoliman seringkali tak bisa dilawan dengan hanya satu jari. Butuh sebuah komuniti, butuh jari-jemari yang saling bersinergi agar kata kata dalam sebuah iklan…….bunyinya nyaris tak terdengar, itu memang tak akan terdengar lagi. Kita tak ingin selamanya menjadi obyek penderita.

Mendung diatas langit seorang Prita kini perlahan mulai memutih tapi pertahanan kolektif  tak seharusnya berakhir hanya sampai disini. Diluaran sana takdir kehidupan masih menyisakan sebuah ketidakpastian bagi kita semua. Ada nuansa ketidak adilan, ada kemiskinan, ada mafia kejahatan, ada banyak simbol-simbol kegelapan lainnya yang menyelimuti kita dan perlu kebersamaan untuk melewatinya. Meminjam bahasa seorang Wiji Tukul, hanya ada satu kata.………………………………………….

Perangkat komputer hanyalah seonggok benda mati dan operating sistimlah yang mampu membuatnya seolah hidup. Cukup banyak operating sistim yang telah dicipta namun rasanya hanya 3 yang memiliki pengguna terbanyak dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kita mengenal Windows yang begitu populer sekaligus familier dan mungkin juga paling user friendly karena bisa jadi kita yang paling dulu mengenalnya. Kita juga mengenal Mac yang tampilan grafisnya begitu memukau dan yang terakhir adalah Linux sang penantang yang terlahir dari dunia open source.

Adakah operating sistim yang menawarkan keindahan grafis yang wow, yang begitu user friendly dan yang terpenting “free” ? Mungkin anda akan geleng-geleng kepala karena sejauh ini memang sepertinya belum ada operating sistim yang merupakan perkawinan antara ketiganya. Tapi saya melihat hal itu bukanlah impian. Cobalah kunjungi situs awu-awu berikut ini,

http://galaxi bima sakti/tata surya/planet bumi/asia/indonesia/download.html

Anda akan mendapatkan semua yang mungkin kita impikan.

Yups, siapa sih yang tak mengenal eloknya sebuah negeri yang terletak diantara 2 samudra dan 2 benua ini ? Bak mozaik yang jatuh dari surga, negeri ini diterangi dengan gemerlap cahaya. Manik-manik keindahan terlukis jelas dalam setiap sisi peradaban, dalam relung alam yang membentang. Bali yang begitu eksotis, batik dengan segala motifnya, kilau emas dihamparan bumi Papua, komodo yang mengundang misteri, keragaman bahasa hingga reog yang penuh magis, semua menawarkan pesona yang banyak negeri lain serasa kurang beruntung tak bisa memilikinya.
Aura keindahan itu bahkan menjalar kedalam drama perseteruan antara 2 lembaga negara beberapa waktu yang lalu. Lakon yang sempat digelar dengan label Cicak lawan Buaya itu bisa dipentaskan dengan penuh kesan, penuh tanya dan bisa menghibur kita untuk beberapa pekan lamanya.

User friendly ?

Ah, terlalu banyak fitur itu yang kita punya, Seja dulu kita memang terkenal sebagai bangsa yang lekat dengan keramahan, yang selalu terlukis dalam senyuman. Sebuah buku yang mengupas tentang history seorang pembesar negeripun diberi judul The Smilling General meski bagi sebagian anak negeri senyuman itu terasa satir dan pahit untuk ditelan.

Kita memang bangsa yang user friendly full. Lihat saja para pahlawan devisa yang mencoba berkelit dari bunyi sebuah pepatah hujan emas dinegeri orang masih enak hujan batu dinegeri sendiri. Mereka kadang harus pulang dalam derita, upah yang tertunda, wajah lebam sampai hanya tinggal jasad semata.

Semua membisu, terdiam dalam kesibukkan, menganggap itu hal yang biasa, terserah apa kata usernya saja…..what do you want to do, we will do it. Sebagai sebuah bangsa kadang dan barangkali kita cenderung lemah dihadapan bangsa lain. Ada sebuah potret yang membuat hati ini terluka, ketika presiden menanda tangani sebuah nota sementara bos IMF berkacak pinggang disampingnya.

About free and open source ?

Tak sedikit cerita tentang free dan open source ini. Yang lagi hangat tentu saja cerita tentang ribuan nasabah sebuah bank swasta yang nasib uangnya tak jelas juntrungnya. Aneh bin ajaib mirip adegan sebuah acara sulap, sebuah bank yang selama ini diyakini sebagai tempat teraman untuk menyimpan uang ternyata bertingkah bak aplikasi open source. Kode-kode untuk membobol uang nasabah terbuka untuk banyak orang dan berstatus free untuk dibelokkan arahnya.

Bukan salah bunda mengandung bila sebagaimana halnya Windows yang kadang manyampaikan pesan adanya file yang korup, kehidupan kita dalam bernegarapun mengalami cerita yang sama. Apa yang salah ?

Berulang kali kita melakukan repair dan mungkin juga reinstall, 20 Mei 1908 dengan tajuk kebangkitan bangsa, 28 Oktober 1928 dengan mengusung tema Sumpah Pemuda hingga yang paling heboh 17 agustus 1945 dengan acara memformat ulang kehidupan berbangsa, meremove segala sesuatu yang berbau Belanda, tapi pesan file yang korup tak kunjung musnah. Operating sistem kita tak kunjung berjalan sesempurna harapan yang ada.

21 Mei 1998, sebuah revolusi kecil kita lakukan, yang barangkali sudah geram dengan segala apa yang terjadi, sudah putus asa dengan guratan nasib yang sedang kita jalani. Awalnya seolah  kita sedang membuat restore point baru tapi nampaknya hingga satu dasawarsa terlewatkan, alunan kisah tentang badai pasti berlalu, masih terlalu pagi untuk dibicarakan.

Komputer memang hanya sekumpulan benda mati dan perlu operating sistem untuk menghidupkannya. Perlukah setiap perangkat dilengkapi sistim tersendiri agar bisa menjalankan kehidupannya, agar nasibnya tak tergantung kepada sebuah operating sistem ?

Tanyalah pada lubuk hati diri sendiri. Negara kadang kurang peduli lagi. Menggantungkan nasib mungkin mirip dengan sebuah pertaruhan………….

Sadap menyadap

Apa sih sadap atau penyadapan itu ?

Penyadapan itu berarti melakukan intersep terhadap suatu sistim yang sedang berjalan. Motifnya bisa hanya sekedar “mengamati” atau lebih dari itu yakni melakukan sampling. Ditilik dari status hukumnya aktifitas penyadapan ini bisa legal bisa juga ilegal. Sedang dipandang dari sudut sosial, penyadapan tersebut dapat dikategorikan etis dan tidak.

Dikalangan petani, penyadapan berarti melakukan sudetan terhadap pohon karet untuk diambil getahnya ataupun pohon enau guna diambil lira sebagai bahan baku pembuatan gula aren. Sementara dunia kriminal mengenal penyadapan dalam terapan aksinya sebagai bajing loncat. Mereka menaiki truk yang sedang berjalan dan menjarah sebagian isinya. Aksi penyadapan pernah juga menimpa pada Pertamina beberapa tahun yang lalu. Di Cilacap, beberapa orang pernah menyadap pipa minyak dan mengalirkan ke tanki penampungan pribadinya.

Dunia militer adalah dunia yang paling familier dengan kegiatan sadap menyadap ini dan bisa jadi dari merekalah ide jail ini lahir. Lewat aksi penyadapan mereka berharap dapat mengetahui apa yang tengah lawan bicarakan, apa yang sedang direncanakan agar mereka dapat lebih siap dalam meng counter ataupun agar lebih sukses dalam aksi serangan yang dilakukan. Mereka ingin mengetahui kondisi terakhir lawan sedini mungkin.

Mereka bahkan sudah menyiapkan skenario apabila pihak lawan akan melakukan penyadapan. Biasanya dalam komunikasi radio dilapangan mereka menggunakan beberapa kanal frequensi sekaligus yang dipergunakan bergantian secara acak atau yang dikenal dengan istilah hooping.

Dengan sedikit kemiripan, dunia amatir radio atau yang dikenal dengan breaker, biasanya mempergunakan mode duplex yakni frequensi pancaran dan penerimaan dibuat berbeda 6 KHz agar pembicaraan mereka tak mudah dikuping oleh orang lain. Maklum saja frequensi yang mereka pakai adalah frequensi publik.

Dalam dunia internet khususnya dunia email, aksi penyadapan juga memungkinkan untuk terjadi. Apakah selama ini anda menyangka bahwa email yang anda kirimkan akan selamat sampai di tempat tujuan ? Aha, buang jauh jauh pikiran itu.

Proses pengirimaan email tidaklah sesederhana yang kita bayangkan. Mengunjungi server email, menulis kata demi kata dan selanjutnya nge send. Itu baru tahapan awal karena dalam proses sending beberapa komputer lain yang bertindak sebagai router ikut dilibatkan, ikut membantu proses pengiriman email kita. Sangat mudah bagi komputer diatas yang jahat untuk sekedar membaca atau kalau mau lebih jahat lagi mengganti isi email kita. Nah, bagaimana seandainya rekan ataupun bos menerima email yang berisi penuh kata makian dari kita ? Itulah yang dinamakan spoofing.

Belakangan ini berita tentang penyadapan tengah mencapai puncaknya. Ini berkaitan dengan penyadapan pembicaraan seorang pengusaha yang diduga melibatkan beberapa petinggi institusi negeri ini, baik dari kepolisian maupun kejaksaan. Meskipun jalur komunikasi seluler dewasa ini dianggap lebih aman karena telah menyertakan sebuah “kode” untuk registrasi di network dibanding generasi pendahulunya yang analog namun tetap saja ada cara untuk membuatnya bisa disadap karena metodenya tetap sama yakni suara kita diberangkatkan ketujuan dengan menumpang sinyal frequensi yang “menyebar” kemana-mana. Yang terakhir ini tentu saja bukan karena ulah mbah Surip tapi karena area GSM adalah ruang publik.

Dunia memang terasa kian sempit. Lahan yang diperuntukkan bagi ruang privat rasanya kian susut.

WASPADALAH WASPADALAH WASPADALAH.

The journey of the dream

the dreams

Kursi belum terisi penuh saat aku masuk ruangan. Sesi training yang kebetulan aku ikuti belum lagi dimulai, sambil agak selonjorkan badan melepas lelah aku mencoba mengamati sekeliling dan sepasang mata ini terhenti pada sebaris tulisan, MAKE A DREAM WHILE YOU’RE AWAKE. Hmm, aku agak lama mencerna makna tulisan ini dan tanpa terasa alam bawah sadarku terbang kemasa lalu.

terbang bak burung

Dalam mitologi Yunani kuno tersebutlah Daedalus dan putranya Ikarus yang mencoba melarikan diri dari penjara di pulau Kreta. Mereka menempelkan bulu-bulu burung di badannya dengan lilin sebagai perekat untuk menyeberangi lautan. Dalam pelariannya Daedalus sempat berpesan kepada sang putra agar tak terbang terlalu tinggi tapi nampaknya Ikarus lupa akan nasehat sang ayah. Dengan pongahnya dia berakrobat diangkasa, jungkir balik, naik turun dengan riangnya hingga datanglah bencana.

Sengatan sinar sang surya perlahan melelehkan lilin dan merontokkan bulu yang ada helai demi helai. Ikaruspun kehilangan gaya angkat juga hilang keseimbangan. Tubuhnya jatuh, meluncur deras menghunjam bumi. Ikarus harus pergi untuk selama-lamanya, tewas dalam kesombongan diri.wow

Mimpi Daedalus untuk bisa terbang laksana burung harus bersabar hingga ratusan bahkan ribuan tahun sampai Wright bersaudara “sukses” mengawali mimpi mereka menjadi nyata. Selanjutnya perlu gotong royong, butuh kerja kolektif antar generasi umat manusia dimuka bumi ini, lintas bangsa, lintas negara sebelum akhirnya bisa terwujud seperti yang kita lihat kini. Mimpi untuk terbang solo sekarang semudah membalik telapak tangan, bisa dengan parasut, dengan paralayang ataupun gantole. Juga keinginan terbang secara berjamaah dengan pesawat dari yang berukuran mini hingga yang jumbo jet sekarang tidaklah susah. Bahkan mimpi itu sudah melewati batasnya, melampaui apa yang mungkin diimpikan oleh burung itu sendiri.

ahhh

Mungkin bagian yang tak mudah adalah bagaimana menyisihkan waktu untuk memahami, untuk menyadari adanya proses kreatifitas yang terus tumbuh, akumulasi kerja keras yang terus bergulir, yang dibutuhkan dalam proses membangun sebuah impian menjadi kenyataan. Banyak dari kita yang seringkali hanya membingkai mimpi yang dimiliki dalam sebuah partisi ajaib dimalam hari, membelenggu dalam lamunan yang tak pernah dikonversi menjadi langkah konkret menuju tanah harapan. Tak sedikit yang berharap akan datangnya sebuah keajaiban, tak sedikit yang menganggap semuanya bisa diraih dengan cara yang instan, bisa terlaksana dalam semalam. Kita bukanlah Bandung Bondowoso, sang tokoh dalam pembangunan seribu candi.

Aku mencoba mencubit diri sendiri, mencoba membangkitkan jiwa yang mungkin tak punya gairah. Aneh, tak sedikitpun terasa sakit. Aku jadi ragu, jangan jangan  sekarang aku dalam mimpi mode on, sedang tertidur dalam menjalankan ritual kehidupan. Mata memang siaga namun hati ini, hasrat yang aku miliki sedang terlelap dalam hiruk pikuk dunia yang berjalan kian cepat dari waktu ke waktu.

Make a dream while you’re awake.

Ah, aku sedang merenung apa maknanya……………………………………………..

Aku……..

broken days

broken days

Aku,

Bukanlah simbol kehidupan.

Bukan pula barang pajangan,

Kutak pernah sesali diri

Meski diitakdirkan jadi makhluq pingitan,

Yang slalu terdiam,

Terkurung dalam lubang kegelapan.

Aku,

Takkan salahkan nasib ini,

Walau desah nafas habis tuk menghitung hari.

Menanti datangnya lambaian perpisahan ,

Ditangan kerling pria pemuja kenikmatan.

Atas nama cinta,

Kubisa mati muda.

Atas nama Dia diatas sana,

Kudapat berkedip lebih lama.

Dan demi sebuah cita,

Juga rasa kecewa yang menggurita

Kubisa senisan dengan sang bunda.

Aku,

Saat menunggu denting lonceng kematianku,

Srasa ingin berganti warna, ingin berganti baju,

Hijau, ungu ataupun biru,

Mungkin juga batik seperti warisan negeriku.

Dan tak lagi hanya merah,

Yang hanya membuat pria berjakun berteriak puas,

Pertamaaaaax…………….

Aku,

Harus bergulat dalam derita, meregang nyawa.

Diantara swara tangis dan senyum bahagia.

Diantara butir keringat dan hening malam berbunga.

Yang untuknya aku ada dan tercipta.


*********


P E R I N G A T A N  !!!

SEBELUM MENINGGALKAN POSTING INI

HARAP DIPERIKSA BARANG ANDA

JANGAN SAMPAI HILANG ATAU KETINGGALAN

Tulisan Sebelumnya »