
jempol
Bagi netter yang tergolong dhuafa macam saya yang bisanya cuma online lewat seluler, ibu jari atau yang lebih populer dengan sebutan jempol tentu sangat berguna. Dengannya saya bernavigasi dan mengetik kata demi kata.
Jempol juga dipakai orang dalam body language untuk menggambarkan bahwa sesuatu itu baik, bagus, OK dsb. atau mungkin bisa sebaliknya.
Dan “jempol” pula konon katanya yang menjadi penyebab seorang pejabat negara setingkat menteri harus kehilangan tahta.
Jempolnya yang mungkin ingin merasakan sensasi keypad yang berbeda tampaknya menuai masalah.
Sang penguasa keypad berang dan mengancam akan menyebar aroma busuk sang ketua.
Dan kisah ini seolah diakhiri dengan sebuah tragedi, dengan tewasnya sang penguasa keypad usai 2 butir peluru menerjang kepala.
Ontran ontran dinegeri ini seakan tak pernah kehabisan cerita. Dari satu kisah berpaling ke kisah yang lain.
Dijaman orde baru tak sedikit orang yang menduga bahwa suatu berita itu didisain sedemikian rupa sehingga bisa meng overwrite berita sebelumnya. Tujuannya jelas agar berita yang bikin malu, bikin panas telinga, bikin sang tokoh ber “muka merah” bisa segera menguap dibenak para pemburu maupun pemerhati berita. Ini semacam trik pengalih perhatian.
Kita tak tahu apa sesungguhnya telah terjadi. Mungkin hanya sekedar masalah cinta segitiga, mungkin pula ada teori konspirasi dibaliknya.
Bumi gonjang ganjing…….
Wadah mangan arane beling,
Wernane abang kenyil kenyil arane kelanting,
Sak bejo bejone wong kang edan gulung koming,
Isih bejo wong kang waras lan eling……….
PERTAMAX !!
wah jempolnya kriting nanti lho…
***
Hehehe………..
Kayaknya tambah keriting tambah sip.
weh… saya menduga duga ini jempol siapa… dan yang mana .. hehehe
***
Ah, mas Ardy ini memang sukanya menduga duga. . . . .
driji saya jempol semua…….
hahahaha (lmao)
***
Weleh, kasihan si Luxsman rek, gak bisa “ngupil”……………
kalau maksa, hmmm gak bisa membayangkan seberapa besar lubang hidungnya nanti.