Saat sore menjelang magrib di pojok pasar, suasana mendadak menjadi ramai. Sekawanan pedagang nampak berkerumun dan memilih menunda kepulangan. Sebagian hanya diam membisu tapi sebagian yang lain terlihat bercerita dengan penuh semangat, seolah berlagak jadi Bung Tomo baru.
Mereka nampak gayeng membicarakan seorang pria berbadan kekar dengan aneka asesoris tatoo di badannya. Mereka membicarakan seorang pria yang selama ini terkenal sebagai preman pasar, yang ngetop sebagai tukang bikin onar, yang populer sebagai ahli pembuat resek kelas wahid. Mereka membicarakan seorang pria yang kini sedang terkapar lemas meregang nyawa, meregang hobbynya dalam membuat resah banyak pedagang yang geram dengan aksi pajak gelapnya.
Tiba tiba seorang wanita berwajah kusut datang membelah kerumunan. Dengan isak tangis dan linangan air mata, dipeluk jasad sang jagoan seakan enggan berpisah. Sangat mungkin dia adalah kerabat, kekasih, atau malah belahan jiwa sang pria malang bertatoo. Aneh memang, kepergian seorang pria tukang bikin onar yang kehadirannya tak diharapkan oleh banyak orang masih saja menyisakan adegan melodrama. Masih saja ada orang yang tak rela dan menangisi kepulangannya ke alam baqa. Masih saja ada orang yang tak pedulikan sekian puluh orang disekitar yang tengah bersorak diatas jasad kasihnya atau malah mengucap lirih, alhamdulillah……telah kembali datang kemerdekaan yang telah beberapa waktu menghilang.

Datang dan pergi
Kawan, bulan romadhon akan segera berlalu.
Bagi sebagian bahkan mungkin kebanyakaan orang, bulan romadhon tak ubahnya mirip preman pasar. Kehadirannya sering membuat onar, membuat tak nyaman acara sore maupun tidur malam kita. Ada shoalat tharawih ataupun sholat malam yang serasa jadi kewajiban. Kahadirannya kerap bikin resek, membuat kita tak lagi nyaman menerawang gambar panas ataupun film gituan. Kehadirannya tak jarang membuat resah karena acara gosip kita jadi tertunda dan tak lagi meriah. Kehadirannya selalu bikin masalah, setidaknya masalah jam makan kita di pagi hari.
Tergantung disisi mana berpijak, tergantung seberapa tinggi level taqwa kita, bulan romadhon memang bisa berwajah ganda. Apakah dia seorang preman yang kepergiannya tak patut disesali ataukah kekasih hati yang kepergiannya pantas untuk ditangisi, itu masalah hati nurani, Itu masalah pilihan.
Namun bila ada sebuah “pesan“, bila ada firman yang kiranya bisa buat bahan renungan, akankah kita tak harap dia kembali tahun depan ?
Semua amal ibadah itu untuk hambaku kecuali puasa itu untukku dan aku sendiri yang akan membalasnya.
Baginya akan ada 2 kebahagian, saat berbuka dan saat bertemu dengan Tuhannya.
***************************************************************
SELAMAT IDUL FITRI 1430 H.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.






