Arsip untuk Januari, 2009

1 T

Posted: Januari 31, 2009 in Negeriku.......
Tag:, ,

Matahari hampir tenggelam, kumandang adzan magrib sesaat lagi khan terjelang……………
Si mbah nampak celingukan mencari sang cucu kesayangan, dikamar mandi, dibawah dipan, didalam lemari, dibalik kulkas, dikandang kambing, weleh ga ada.
Si mbah nyaris panik, kebayang sang cucu jadi korban penculikan.
Tiba tiba mata si mbah sekilas melihat ada sesosok bayangan lagi ndeprox dibawah pohon jambu.

“Weeh, lagi ngapain le kog pakai orat oret segala ?”, si mbah nyoba mencari tahu.
“Lagi belajar matimatika ya ? hmmm, hebat euy,” si mbah menambahi.

“Belajar matimatik ? peeh, lha wong lagi ngitung kalau seandainya dana 1T pilgub Jatim kemarin dibuat ngrehab sekolah bisa jadi berapa sekolahan ya, kalau dibeliin buku buat perpus dapat berapa biji ya, kalau dibelanjain sembako buat rakyat miskin dapat berapa kilo gitu, kalo dibuat tambahan dana BLT………………….
Si mbah : ???????

Iklan

Dialog sore : pemilu…….

Posted: Januari 29, 2009 in Negeriku.......

Diatas dipan tua yang telah kriyat kriyet bunyinya, si mbah tengah melinting tembakau kesukaannya, seolah tak peduli fatwa haram dari MUI.
Sepulang dari ngaji, sang cucu terlihat setengah manja menghampiri si mbah.
Sambil menyimak koran yang telah lusuh, sang cucu bertanya pada si mbah : “mbah, ngapain seh kita ngadain pemilu ?”
Sambil mengepulkan asap rokok si mbah mencoba menggelincirkan jawaban, “le, pemilu itu ada karena negara kita ini negara demokrasi, jadi kita harus milih pemimpin dan wakil rakyat “.
“Lho mbah, kalau cuma milih pemimpin dan wakil rakyat, kenapa pakai pemilu, ga pake sms saja biar irit biaya ?”, sang cucu mencoba ngeyel.
Si mbah sembari menghisap asap rokok dalam dalam menjawab sang cucu, “le, urusan mengelola negara ini sangat penting dan nggak main main. Kalau milih pemimpin dan wakil rakyat lewat sms seperti kontes penyanyi dangdut di tivi khan nggak valid, nggak bisa dipertanggungjawabkan “.

“Peeh, khan mereka, para pemimpin dan wakil rakyat sering mengdangdutkan janjinya mbah……..ga valid sama pas koar koar disaat kampanye ?”, sang cucu menyergah.

Sedetik, sepuluh detik, semenit berlalu. Jawaban si mbah yang diharap sang cucu tak kunjung datang, tiba tiba…………………..terdengar : “eeegghhhkkk, hhhwwwwkkk”.

Terlihat si mbah tergelimpang, mata melotot sambil jarinya menunjuk kearah tenggorokan.
Sang cucu panik bukan kepalang. Lintingan tembakau yang baru 2-3 kepulan dihisap si mbah ternyata telah menghilang………………..

Partai……..

Posted: Januari 28, 2009 in Negeriku.......
Tag:,

Ada si Mbah yang sedang mengajak cucunya bersepeda ria, berkeliling kota. Tiba tiba sang cucu sambil menunjuk pada poster caleg yang terpasang dipojok jalan, bertanya : “eh, mbah, partai itu apa seh ?”
Tanpa melihat poster yang dimaksud dan terus menatap jalanan, si mbah menjawab : “weleh le, partai itu artinya borongan. Itu lihat dipasar kadang dipasang spanduk dengan tulisan :dijual segudang kotak suara, partai maupun eceran“.
Lha yang beli secara borongan itu le, namanya pemborong. Pemborong itu maunya ya nyari untung soalnya mau dijual lagi pada pihak lain.

Tiiieeeeng………………….
Weeh, jawaban si mbah ga nyambung ya. Tapi kalau dipikir pikir buat apa ya kita punya banyak partai yang jumlahnya sampai puluhan ?Apakah karena memang pingin menyemarakan pesta demokrasi atau mungkin karena udang dibalik batu, ada faktor ekonomi ?

Banyaknya jumlah partai sepertinya hanya akan menambah derita. Biaya kartu suara akan membengkak karena ukurannya jadi jumbo. Negara kena getahnya, karena APBN jadi melar. Pemilih kena susahnya karena harus melotot extra untuk mencari sang idola. Sementara KPU dibuat agak pusing dalam menyusun jadual kampanyenya.

Buat apa banyak partai kalau barang dagangan yang dikemas serupa, kalau issu yang diangkat tak jauh beda ?

Seiring naiknya sang surya, sang cucu nampak menyeringai, nampak mengernyitkan dahi, terlihat garuk garuk kepala. Entahlah apa dia masih ga mengerti tentang arti sebuah partai atau barangkali kepala digaruk karena sudah
seminggu rambut ga dicuci………….

Perubahan paradigma

Posted: Januari 21, 2009 in Pelita hati
Tag:, ,

Dalam salah satu acara yang pernah aku ikuti, sang pembawa acara memintaku juga peserta yang lain untuk melukis gambar sebuah pemandangan dalam tempo yang terbatas. Seingatku sih 3 menit………
Pas sudah kelar, kami diminta untuk saling memperlihatkan gambar masing masing. Weeh, sungguh ajaib, gambar kami [ sekitar 24 orang ], ternyata serupa semua, gambar sebuah gunung dengan hamparan sawah dan hiasan burung dilerengnya. Yah, ga jauh beda dengan gambar saat kami di SD.
Sejenak kami tertegun dan selanjutnya ngakak bersama, mentertawakan diri sendiri.

Kami seolah sadar dan merasa malu, betapa ada sebagian wawasan didalam diri ini yang telah sekian tahun nggak pernah di up date. Sehingga saat harus mengatasi suatu permasalahan, masih menggunakan memori ataupun paradigma lama.
Secara substansial sebenarnya tak jarang pengalaman hidup kita ngga pernah bertambah kualitas dan ragamnya . Yang ada dan yang terjadi seiring berjalannya waktu adalah pengalaman hidup yang kering, yang pendek yang terus berulang, berulang dan berulang. Hmm, mungkin mirip potongan bahasa program yang mengalami looping.

Kata orang, buka mata, buka hati, buka wawasan, cerahkan diri.
Kata pengajian di mushola, kita harusnya menuntut ilmu dari ayunan ibu hingga ke liang lahat.
Jelasnya ngga ada kata terlambat, ngga ada kata game over dalam urusan ilmu.
Dunia selalu berubah, dan cuma satu yang ngga berubah yaitu perubahan itu sendiri.
Bila kita ngga berubah, bila ngga meng update wawasan dan informasi, nasib kita akan seperti katak dalam tempurung.
Atau barangkali kita ingin menjadi tokoh Ashabul Kahfi versi moderen ?

Kegagalan itu…………..

Posted: Januari 20, 2009 in Pelita hati
Tag:,

Suatu hari istri tercinta telah berputus asa dalam menasehati, dalam mengelola putri sulung kami. Ungkapan kata kata menyerah, nggak tahan lagi yang dibalut dalam kemarahan yang memuncak nampak keluar dari bibir mungilnya.
Yah, putri sulung kami kadang dan memang seringkali keterlaluan dalam perilakunya………supermalas, bandel n suka menjaili sang adik.

Aku menghela nafas panjang, menatap lembut matanya dan mencoba menurunkan tensi amarahnya.

Aku katakan, jangan ratapi kegagalan ini. Jangankan kita yg hanya manusia biasa, orang yang sekelas nabi dan rosulpun, yang merupakan manusia pilihan ternyata pernah gagal dalam hidupnya.
Aku ingatkan pada kisah nabi Nuh yang gagal dalam menasehati istri dan putranya agar beriman kepada Tuhan. Demikian juga dengan nabi Ibrahim yang gagal dalam mengimankan sang bapak.
Rosulullohpun tercatat dalam sejarah gagal dalam mengislamkan sang paman, Abu Tholib.
So, kamu nggak usah malu dengDan kegagalan ini karena tugas kita sebagai ortu, sebagai manusia hanyalah berjuang dan berjuang. Tentang hasilnya tentu ditangan Tuhan.
Anak adalah amanah dan tugas kita adalah menggembalakannya dengan baik agar nantinya bisa kembali ke sang pemilik dalam keadaan baik pula dan untuk itulah kita dibayar.

Terlihat olehku skala kemarahannya mulai berangsur menurun, dari siaga menjadi waspada dan akhirnya malam itu menjadi normal kembali.
Ah, betapa indahnya hidup ini, seindah malam itu yang membuat hati ini seolah lupa hari telah menjelang pagi.

Menantang maut

Posted: Januari 19, 2009 in Pelita hati

Diperempatan Galaksi, Minggu 18 Januari sekitar setengah 11 malam.
Lampu traffic light telah menyala hijau, membuka gerbang arus lalin dari arah Arief Rahman Hakim, tapi seorang ceweq berkulit putih bersih nampak ogah bergerak.
Ia baru memacu motor maticnya setelah sedikit kaget mendengar bunyi klakson kendaraan dibelakangnya.
Aku turut penasaran dan gemas dibuatnya. Olala, ternyata dia tengah pencet pencet handphone.
Sudah selesai ? Ternyata belum. Sambil tangan kanan menghandel kemudi, tangan kirinya masih terlihat asyik memainkan keypad ponselnya. Entah apa yang dikerjakannya, baca sms sang cowoq, surfing, atau barangkali tengah bikin postingan.
Lagi lagi aku penasaran dan coba menguntit, mengambil jarak yang stabil dengannya.
Weeh, hebat euy. Dengan kecepatan 50 km/jam terlihat dia masih terampil memencet tombol, mengoperasikan ponselnya. Atraksi baru berakhir menjelang bundaran ITS.
Ada yang punya hasrat memecahkan rekornya ?

Sebuah harga

Posted: Januari 17, 2009 in Pelita hati

Menurut teori dagang, kalau kita mendapatkan barang yang yang nilai ekonomisnya melebihi sejumlah uang yang telah kita keluarkan itu disebut beruntung dan kalau sebaliknya disebut merugi.
Kalau barang yang didapat setara dengan nilai uangnya berarti impas, enggak untung juga enggak rugi. Orang Surabaya bilang Puk sang.
Kelihaian kita dalam proses penawaran, dalam proses negoisasi hargalah yang membuat kita berada distatus beruntung atau merugi.

Hidup ini adalah perjuangan, demikian seorang politikus berteriak. Yang jelas hidup ini adalah perdagangan yang selalu diwarnai dengan proses jual beli.
Mungkin saat ini kita adalah pembeli, tapi dikesempatan lain boleh jadi kita menjadi penjualnya.

Didalam pasar kehidupan ini kita ditemani oleh makhluk abstrak yang bernama emosi. Kadang dia berada didepan, memimpin, menguasai dan menjadikan kita sebagai budaknya.
Kadang dia berada dibelakang saat kita bisa memposisikan diri sebagai tuan.

Banyak orang yang mengalami kegagalan dalam proses transaksi bahkan berakhir dengan tragis.
Ada dua orang yang tadinya berteman, hanya gara gara masalah uang parkir yang tak lebih dari 2 ribu rupiah, berakhir dengan baku hantam dan endingnya berlanjut di penjara karena 1 nyawa melayang.
Mendapatkan barang seharga 2 ribu rupiah dengan tebusan 8 tahun penjara ? Ah, bodoh amat orangnya.

Dikisah lain ada yang gara gara punya hutang 20 puluh ribu, seorang ibu tega menghabisi tetangganya dan itu diduga sempat berulang beberapa kali pada yang lain.
Diantara kita mungkin telah mengenalnya. Dialah Astini, yang lembar hidupnya berakhir diujung senapan brimob polda Jatim.

Cerita yang lebih memilukan barangkali datang dari Jakarta beberapa tahun yang lampau.
Seorang perwira tinggi angkatan darat, wakil komandan suatu kesatuan terelit, agak terganggu dengan segerombolan pemabuk saat perjalanan pulang kerumah.
Disinilah beliau melakukan blunder. Mestinya hal yang bisa ditangani sang ajudan atau mungkin andai dirasa perlu bisa menggerakkan sekompi anak buahnya dimarkas.
Tapi apa daya, emosi menuntunnya membereskan seorang diri. Sang pemabuk tentu saja takbisa mengenali orang didepannya warga biasa ataukah orang kedua di baret merah, yang jelas sebilah pisau telah berbicara. Sang prajurit berpulang dan si pemabuk jadi buronan tentara.

Kita kadang juga sering melakukan kebodohan. Karena emosi, karena nafsu, karena gengsi, suatu barang bisa terbeli dengan harga tinggi dan diluar kewajaran.

Ingat saat launching sang communicator, N9500 ?
Suatu kebodohan berjamaah terjadi. Orang pada ngantri, berebut membeli tanpa peduli berapa duit yang harus dikeluarkan.
Sekarang barang yang sama bisa didapat mungkin dengan harga seperenamnya.

Mau untung atau malah buntung ?
Kitalah yang mengambil opsi. Kendalikan hati, tenangkan emosi serta buanglah rasa gengsi……………………