Dicari : handphone idaman.

Posted: Januari 15, 2009 in xpresi
Tag:,

Dari sebuah majalah aku dapat informasi kalau handphone itu adalah gadget yang paling banyak dipunyai orang dimuka bumi ini.

Yah, siapa sih yang ga kenal n punya handphone saat ini ?
Meski awalnya ia adalah barang dengan kategori mewah yg hanya kalangan tertentu saja yang bisa membelinya. Pokoknya prestise banget kalau bisa menentengnya kemana mana.
Tapi sekarang jaman sudah berubah. Handphone kini bukan lagi barang mewah. Mulai pejabat sampe pemulung, dari artis sampe tukang becak semua berponsel ria.

Asal ga neko neko sama fiturnya kita sudah membawanya pulang dengan tebusan sekitar 3 lembar uang gambar Sukarno -Hatta apalagi kalau mau yang seken. Terlebih kartu perdana n biaya pulsanya sekarang sudah tergolong terjun bebas.

Oh, ya aku mulai mengenal handphone di thn 2002 dan yang beruntung menjadi pilihanku adalah Siemens C45. Kenapa memilihnya ? Jawabnya agak simpel, tertarik saat salah seorang teman membawanya.
Setelah berhasil merayu sang bendahara, akhirnya horeee aku punya handphone juga meski untuk itu tabungan kami harus berkurang 1,325 juta.

Selanjutnya sebagaimana biasa penyakit handphone shopping mulai menjakitiku dan bisa ditebak aku mulai berselingkuh n berganti ganti pasangan dengan Nokia 3100, Nokia 3315, Nokia 6600, Motorola E398 dan berhenti dengan menggandeng eh menggenggam N70 sejak hampir setahun yang lalu.

Sudah berhenti dan berikrar menjadi pasangan yang setia ? Weleh, kayaknya enggak ya.
Meski secara teknis N70 bagiku sudah terbilang cukup memuaskan. Berkat Symbian60 versi 2, handphoneku bisa diisi aplikasi pihak ketiga yang sangat berguna semacam MCleaner yang dengannya aku bisa memblok nomer yang datang ga diundang, bisa diajak ngenet pakai Opera mobile dimana saja [sampe di wc segala, hehe], bisa difungsikan untuk email client, bisa motret sampe 2 mega, trus punya memori internal lumayan n memori external yg bisa ditancepin hingga 2 giga.
Lho kog kayak bakul handphone saja ya, nerocos begitu banyak tentang fiturnya.
Eh, asal tahu saja N70 itu punya prosesor ARM pearl 1792 dengan clock 220 mhz dan RAM sebesar 53 mb. Ga nyangka ya benda seuplik kayak gitu setara dengan desktop yang kelasnya Pentium 2.

Dan seperti kata pepatah tak ada gading yang tak retak, aku juga mulai merasakan ketidakpuasan pada pasanganku saat ini.
Kecepatan komunikasi yang lambat saat berbicara dengan PC, hang sesaat kala diajak ngentry text juga keyboardnya yang kelas numeric, yang harus ngantri saat ngetik.
Aku ingin punya gadget yang layarnya lebìh lega, punya keyboard jenis Qwerty, ada Wifinya juga power prosesor yang lebih kencang………….dan yang terpenting, harganya terjangkau ! Peeh, barang apik njaluk murah, hehehe.

Bisa ditebak PDA memang jadi target operasiku berikutnya.
Tapi entahlah kapan keinginan itu bisa diekskusi, lha wong kondisi ekonomi lagi suram, harus lebih mengencangkan ikat pinggang.

Ada yang berbaik hati mau jadi donatur ? Sak welase mas mbak, aku sudah setahun engga makan pda……………….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s