Sebuah harga

Posted: Januari 17, 2009 in Pelita hati

Menurut teori dagang, kalau kita mendapatkan barang yang yang nilai ekonomisnya melebihi sejumlah uang yang telah kita keluarkan itu disebut beruntung dan kalau sebaliknya disebut merugi.
Kalau barang yang didapat setara dengan nilai uangnya berarti impas, enggak untung juga enggak rugi. Orang Surabaya bilang Puk sang.
Kelihaian kita dalam proses penawaran, dalam proses negoisasi hargalah yang membuat kita berada distatus beruntung atau merugi.

Hidup ini adalah perjuangan, demikian seorang politikus berteriak. Yang jelas hidup ini adalah perdagangan yang selalu diwarnai dengan proses jual beli.
Mungkin saat ini kita adalah pembeli, tapi dikesempatan lain boleh jadi kita menjadi penjualnya.

Didalam pasar kehidupan ini kita ditemani oleh makhluk abstrak yang bernama emosi. Kadang dia berada didepan, memimpin, menguasai dan menjadikan kita sebagai budaknya.
Kadang dia berada dibelakang saat kita bisa memposisikan diri sebagai tuan.

Banyak orang yang mengalami kegagalan dalam proses transaksi bahkan berakhir dengan tragis.
Ada dua orang yang tadinya berteman, hanya gara gara masalah uang parkir yang tak lebih dari 2 ribu rupiah, berakhir dengan baku hantam dan endingnya berlanjut di penjara karena 1 nyawa melayang.
Mendapatkan barang seharga 2 ribu rupiah dengan tebusan 8 tahun penjara ? Ah, bodoh amat orangnya.

Dikisah lain ada yang gara gara punya hutang 20 puluh ribu, seorang ibu tega menghabisi tetangganya dan itu diduga sempat berulang beberapa kali pada yang lain.
Diantara kita mungkin telah mengenalnya. Dialah Astini, yang lembar hidupnya berakhir diujung senapan brimob polda Jatim.

Cerita yang lebih memilukan barangkali datang dari Jakarta beberapa tahun yang lampau.
Seorang perwira tinggi angkatan darat, wakil komandan suatu kesatuan terelit, agak terganggu dengan segerombolan pemabuk saat perjalanan pulang kerumah.
Disinilah beliau melakukan blunder. Mestinya hal yang bisa ditangani sang ajudan atau mungkin andai dirasa perlu bisa menggerakkan sekompi anak buahnya dimarkas.
Tapi apa daya, emosi menuntunnya membereskan seorang diri. Sang pemabuk tentu saja takbisa mengenali orang didepannya warga biasa ataukah orang kedua di baret merah, yang jelas sebilah pisau telah berbicara. Sang prajurit berpulang dan si pemabuk jadi buronan tentara.

Kita kadang juga sering melakukan kebodohan. Karena emosi, karena nafsu, karena gengsi, suatu barang bisa terbeli dengan harga tinggi dan diluar kewajaran.

Ingat saat launching sang communicator, N9500 ?
Suatu kebodohan berjamaah terjadi. Orang pada ngantri, berebut membeli tanpa peduli berapa duit yang harus dikeluarkan.
Sekarang barang yang sama bisa didapat mungkin dengan harga seperenamnya.

Mau untung atau malah buntung ?
Kitalah yang mengambil opsi. Kendalikan hati, tenangkan emosi serta buanglah rasa gengsi……………………

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s