Arsip untuk Februari, 2009

Antara posting dan komen.

Posted: Februari 28, 2009 in xpresi

Posting tanpa komen ?
Beruntunglah sebagai bagian dari dunia ilmu, posting tergolong sesuatu yang unik dan anomali, yang keluar dari hukum matematika.
Lho koq ?
Tidak seperti benda benda lainnya yang akan selalu berkurang jumlahnya tiap kali diambil, ilmu juga posting justru mengalami hal yang sebaliknya.
Ia akan bertingkah seperti yang terjadi didunia rentenir, mengalami bunga berbunga, beranak pinak. Sang pemilik takkan pernah kehilangan postingan meskipun miliknya telah dilirik, telah “diambil” oleh ratusan dan bahkan jutaan visitor. Zat pengetahuan yang terkandung dalam sebuah postingan malah akan membuat replika dirinya ditempat lain. Dan dunia pengetahuan akan selalu dan akan terus berkembang.
So, postingan yang telah kita upload adalah salahsatu agen pertumbuhan bagi sebuah pustaka raksasa.

Dan komen ?
Tak ada gading yang tak retak. Juga laju suatu pertumbuhan layaknya reaksi kimia kadang membutuhkan katalisator dan sebagaimana trend ekonomi yang sedang “lelah” kadang membutuhkan stimulus agar bisa bergerak lebih cepat. Disitulah suatu komen bisa menjalankan perannya. Dengan bantuan makhluq bernama komen, sebuah posting akan bisa tampil lebih sempurna karena telah dilengkapi dengan aneka “plug in“. Juga lewat suatu komen bisa jadi akan muncul suatu trigger bagi kelahiran posting yang baru.

Anda sering sibuk posting tapi jarang komen, atau barangkali sebaliknya sering komen namun jarang posting ?
Khazanah pengetahuan tlah dan akan terus menunggu sumbangan anda……………………

Dulu kaubilang………

Posted: Februari 26, 2009 in xpresi

Dulu kaubilang……
Negeri ini ijo royo, gemah ripah loh jinawi.
Tapi ternyata,
Yang ijo itu klepon.
Yang ijo itu tangsi militer.
Dan loh jinawi,
telah tergerus tikus hitam penggila korupsi.

Dulu kaubilang……
Negeri ini indah bak zamrud khatulistiwa.
Tapi ternyata,
Negeri ini peta duka lara.
Banjir seakan tak henti mengalir.
Pucuk hutan tak sempat menggapai awan. Denyit gergaji tlah memancungnya tanpa belas kasihan.

Dulu kaubilang……..
Negeri ini negeri 1001 senyuman.
Tapi ternyata,
Yang ada hanyalah seringai menyeramkan.
Yang ada hanyalah hati hitam, yang terbalut dendam tujuh turunan.
Pelajar tawur seolah takpernah libur.
Mahasiswa demo anarki, lempar batu kampus sendiri.
Sumpah pemuda tak lagi bicara, yang tersisa cuma sumpah serapah.

Pak kring kring

Posted: Februari 25, 2009 in xpresi

Masih segar dalam ingatan saat itu biasanya hari tengah menjelang siang. Dari kejauhan terdengar sebuah bunyi yang tak asing lagi, kring kring kring………
Seorang paruh baya bersepeda hitam lengkap dengan kantongnya berhenti diujung lorong, berteriak, mengharap sang empunya segera datang mengambil miliknya.

Ia tak bisa berlama lama bertegur sapa. Setumpuk surat, kartu pos dan hantaran lain harus habis hari itu juga. Dan sebagaimana aku, puluhan dan mungkin ratusan orang lain sedang menunggu.

Potret seperti itu kini sudah tiada lagi. Kemajuan jaman telah melenyapkannya dari pandangan. Dia telah menjadi korban dari sebuah peradaban, dari sebuah perubahan budaya.

Jari jemari yang tengah mengapit pena, yang tengah menumpahkan isi hati dan barangkali juga sebuah puisi, kini lebih suka bermain deretan aksara milik sebuah benda dengan sebingkai layar diatasnya. Tanpa sadar telah turut mengantar keberadaan pak pos pergi tuk selama lamanya, dalam sebuah tidur panjang yang tak bertepi.
Aku telah kehilangan sebuah sensasi, sebuah cara dalam menerima bingkisan isi hati yang tertuang dalam kata demi kata, terlukis diatas kertas putih.
Rasa rindu, rasa bosan menunggu, rasa gelisah didada itu kini entah menguap kemana……………..
Mungkin saja suatu saat nanti wajah paroh baya yang selalu menyisipkan sepotong senyum disudut bibirnya akan bangkit kembali dari tepian jaman tapi kurasa dia bukanlah matahari, yang selalu berjanji khan datang di esok hari.

Woow !

Posted: Februari 24, 2009 in xpresi

Siang itu matahari bersinar begitu teriknya, tapi mungkin tak sepanas hubungan antara demokrat dan golkar akhir akhir ini.
Nampak dibawah pohon nangka, si mbah sedang lesehan bersama tole. Yah, bagi orang kere sekelas mereka, tentu tak bisa seenaknya mengungsi dari panasnya kota ke kawasan Tretes, Malang ataupun vila di mBatu.
Cukuplah menggelar tikar dipekarangan belakang sambil menikmati rokok yang berlabel tingwe, melinting dewe.
Sambil terus mengepulkan asap beracun, si mbah terlihat mengamati tole yang tengah asyik mencoreti kertas dan sesekali memainkan sempoa.
Tak tahan dengan terus mengikat rasa penasaran didada, si mbah mencoba bertanya, “eh, lagi ngapain le ?”.
“Hmm, eh, lagi ngitung waktu mbah,” jawab si tole.
“Waktu ?,” si mbah nampak penasaran mode on.
Tole tersenyum n sejurus kemudian angkat bicara.
“Anu mbah, beberapa waktu yang lalu beberapa orang sempat dijadikan sampel pengujian pencontrengan kertas suara dan hasilnya rata rata butuh 15 menit, dari membuka, berpikir, memilih sampe masukin kedalam kotak suara”.
“Kalau seandainya ada 24 juta pemilih, eh akumulasi waktu yang dibutuhkan 685 tahun lho mbah,” tole menambahkan.
“Weeh, 685 tahun le ?,” si mbah nampak keheranan.
“Pemborosan ! Coba andai bisa dihemat separonya,”si mbah menambahkan.

Tiba tiba, kraaaaaak, mak gedebuug !, sebuah nangka lengser dari pohonnya.
Si mbah n tole kaget sekaligus bersyukur, gak pakai menunggu ratusan tahun untuk menunggu jatuhnya buah nangka.

Beruntunglah negeriku……….
Tuhan tlah kirimkan ponaricilin.
Penawar rasa sakit bagi ribuan anak bangsa.
Yang tengah putus harapan.
Yang mungkin juga tengah putus nalar dan dalam kesesatan.
Yang berharap sehat dalam sekejab secara instan.

Berbahagialah media…………
Berita tlah datang tanpa diundang.
Gemanya membahana hingga ketepian nusantara.
Dibahas, diulas seolah tak ada habisnya.
Koran terjual, sang dukun cilikpun kian terkenal.

Bersyukurlah Ponari………….
Dulu engkau bukanlah apa apa.
Rumahmu hanyalah sbuah gubug derita. Beralaskan bumi berdinding bambu tua.
Kini engkau bak artis ternama.
Ribuan anak bangsa
rela berjemur, bermalam di hamparan bintang gumintang.
Hanya tuk nantikan lambaian tanganmu,
Hanya tuk menunggu air saktimu.
Bukan salah bunda mengandung, bila tanah pondasi dan air comberanmupun kini jadi asa bergantung.

Negeriku memang negeri pemimpi………..
Selalu berkhayal sukses, berangan makmur dan meraih sorga dalam sehari.
Tak peduli rasionalitas harus dikebiri,
Tak peduli meski akal sehat harus berujung janji.

Saat bersih bersih rumah beberapa hari yang lalu, aku sempat mendapati onggokan kaset kaset lama. Yah, kaset musik yang berbentuk kotak dengan segelondong pita didalamnya.
Weeh, gak nyangka ya benda yang diciptakan tahun 1958 ini masih mampu bertahan ditengah kemajuan jaman, disaat dunia digital gencar menawarkan segala aspek kemudahan. Mau lompat lagu, mau rekam ulang ? Guampang. Apalagi kualitas suaranya juga mak sriiing, jernih banget.
Tapi apa yang bisa diperbuat oleh sebuah kaset jadul ?mau ndengerin nomer lagu yang disuka saja perlu sedikit xtra, putar sana putar sini, maju mundur maju. Peeh, ribet banget. Belum lagi kadang suaranya jadi mbleyot seolah lagi kena terjang angin puting beliung. Lebih menjengkelkan lagi kalau pitanya lagi mbundheli, byuh aduh maakk !

Aku menerawang dalam dalam…………………ditengah segala kesederhanaan nya, ternyata sang kaset jadul itu masih bisa survive meski kini dia bukan lagi primadona.
CD, Flash memory, DVD dan kini blueray telah mengambil alih perannya.
Aku salut dan berharap dapat mewarisi semangatnya yang terus mencoba bertahan dari rongrongan kemajuan jaman.
Sifatnya yang kurang sempurna dalam menduplikasikan deretan tangga nada ternyata mampu membuatnya panjang usia. Bila dia bisa, mengapa aku yang juga kurang sempurna ini ndak bisa selamat dari gilasan jaman ?
Ah, aku harus biiiiiiiiisssssssaaaaaaaaaaaaa……………………………….

Horeee ! Kompie “baru”………..

Posted: Februari 12, 2009 in xpresi

Setelah hampir 6 tahun dengan bertahan dengan kompie sekelas pentium 3 yang clocknya cuma 601 mhz, akhirnya aku bisa ganti kompie dengan yang lebih bertenaga baik disisi prosesor maupun memorinya. Semuanya naik hampir 5x lipat.
Sekarang terasa ringan saat menjalankan XP sp2.
Belum dual core memang apalagi core 2 duo, tapi setidaknya dengan 2.8 Ghz plus hyperthreading ini aku bisa booting lebih cepat, gak perlu pakai hibernasi kayak dulu. Sebenarnya sih mau aku aktifkan tapi saat windows minta lahan sekitar 1 Gb, weeh ogah ah.
Hanya sayang slot PCI yang ada cuma 1 demikian juga pin header buat IDE. Aku jadi kelimpungan buat masang hardware, pilih firewire or modem.
Kulirik kancing baju, en bonda bendi ketiban dadi, yee sang modem belum beruntung………….namun itu gak soal. Andai butuh ngenetz masih ada hp yang bisa dikaryakan jadi modem apalagi speednya lebih kencang, paling tidak masih dapat 115 kbps dibanding saat ndial up dulu yang cuma 38.
Hehehe, angka 38 itupun sudah lumayan. Pas puasa beberapa tahun yang lampau malah sempat cuma kebagian 24 kbps. Yah, alon alon waton kelakon.
Kupandang kompie lawasku yang tergeletak dipojokan. Eh, jadi kayak ceweq matre ya, habis manis sepah dipinggirkan.
Kedepannya hati ini jadi dag dig dug, weeh berapa ya tagihan PLN bulan depan.
Seingatku si Prescott ini terkenal rakus listrik………………..