Oase

Posted: Maret 11, 2009 in xpresi

Bersyukurlah kita punya Tuhan yang baik hati. Meski kadang kita mungkin telah “dijerumuskan” dipadang pasir yang gersang, selalu disediakan tempat untuk melepas lelah barang sejenak. Disuatu tempat dimana sekawanan pohon kurma tumbuh subur diantara sepetak sumber air. Kita sering menyebutnya sebagai oase.

Dalam kehidupan sehari hari ditengah himpitan kaum kapitalis beserta antek-anteknya, yang kalau numpang pipis dan eek pun kita mesti bayar sejumlah rupiah, kita juga sering menjumpai adanya oase-oase lain.

Saat Microsoft hampir menjajah semua komputer dimuka bumi ini, masih tersisa ruang bagi seorang Linus Torvald untuk memberi kita seteguk kesegaran.
Disaat microsoft office adalah barang mahal, masih ada open office yang bebas dipergunakan.
Dibelakang Linus masih ada sederet “pahlawan” lainnya yang turut mendirikan oase, memberi secercah harapan bagi sejumlah manusia lainnya yang tengah hidup dalam “kegersangan” ekonomi.

Sejauh ini kita masih bisa ber emailria, chatting, blogging, menjelajah pustaka maya di wikipedia serta menikmati ratusan bahkan ribuan software lain
tanpa harus keluar rupiah sepeserpun.

Entahlah bila suatu hari nanti, disaat terbangun dari tidur, kita tiba-tiba mendapati bendera kapitalisme telah menyelimuti seluruh jagad raya. Tak menyisakan lahan sejengkalpun bagi makhluk yang bernama gratisan.
Barangkali itu mungkin sebuah mimpi buruk, sama buruknya dengan kegelisahan seorang Karl Max.

Tak terbayangkan bila oase itu akan kering, sekering dompet ini saat harus berlomba dengan inflasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s