Nasib sebuah koma

Posted: Maret 14, 2009 in RAM >> Renungan Akhir Minggu

Koma itu sebatang garis lurus dengan sedikit benjolan di kepala dan tubuh agak membungkuk. Ia diciptakan untuk memisah sepotong kalimat, memenggalnya agar pembaca tak kehabisan nafas saat melafalkannya.
Koma juga memisahkan antara kehidupan dan kematian. Hal ini bisa kita temui kala seseorang sedang koma.

Bagi sebagian kalimat, sebuah koma mungkin kehadirannya tidaklah berarti apa-apa. Barangkali ia hanyalah mengusung peran sebagai pelengkap penderita.
Namun bagi ranah politik, sebuah koma bisa berarti bencana dan bisa juga awal kelahiran bagi pertemanan yang tidak biasa.

Beberapa waktu yang lalu sebuah koma kembali menunaikan tugasnya. Ia memisahkan sebuah jalinan koalisi antara 2 orang politisi. Ia memenggal ikatan antara 2 partai besar yang sedang menakhodai negeri ini.

Salah seorang petinggi partai telah keliru menempatkan koma ditempat dan waktu yang tidak semestinya. Ia menempelkan koma diantara angka 2 dan 5 dan bukan bukan pada digit selanjutnya.

Ada yang berang, ada pula yang meradang dengan koma yang telah salah arah. Bagi sebagian orang mungkin terasa getir saat mengingatnya.
Tapi mau apa dikata. Koma yang pahit dilidah itu butuh huruf R untuk mempermanis makna.

Hallo R bisakah kau hampiri negeri ini barang sejenak agar tak lagi ada biduk yang pecah ?

“maaf anda telah salah sambung !,” jawab telepon diseberang sana.

Iklan
Komentar
  1. gempur berkata:

    luar biasa implementasi koma di ranah politik, sebuah pengandaian yang luar biasa pak mudz, saya pribadi menarik benang merah seperti ini kayaknya sulit banget, bahasanya terlalu tinggi dan saya masih terlalu rendah.

    pengen rasanya bisa.

    ***

    Pas jaman SMA dulu, saya pernah punya guru matematika yang bagi saya luar biasa. Dari cara beliau mengajar, saya merasa beliau adalah orang yang cukup atau bahkan sangat berkompeten dibidangnya.
    Ketika kami seisi kelas “bertepuk tangan” sebagai tanda kagum, beliau selalu bilang : ah, kita sama saja kog. Kebetulan bapak yang belajar duluan.

    Yah, begitulah cara beliau memotivasi kami agar mencintai matematika dengan cara yang santun dan rendah hati.
    Suer, gak nyangka. Sekian tahun kemudian saya bertemu kembali dengan orang dari “spesies” yang sama, yang bilang bahwa saya sebenarnya pingin tapi gak bisa…………
    Yang selalu bersikap rendah hati bak ilmu padi.

    Oh,ya salam buat mas Ghofur sekeluarga. Semoga sehat selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s