Hikayat sebuah pesta

Posted: Maret 25, 2009 in xpresi

Diantara padang ilalang kemiskinan, bersimpuhlah dihadapan bapak penghulu demokrasi, 2 insan yang seolah hendak membangun sebuah mahligai.
Satu wajah nampak terpasung dalam harapan akan datangnya kemakmuran, satu wajah yang lain terlihat tersenyum dalam duka. Duka saat uang ditangan tlah menguap tanpa sisa. Potret diri, poster dan baliho yang menghiasi atau lebih tepatnya mengotori jalanan tlah mengambil smuanya.

Diluaran sana, para penggembira dengan kibasan bendera, dengan dandanan yang tak biasa nampak bertempik sorak, larut dalam pesta, seakan lupa akan segala kesulitan hidup yang telah ada.

Tiada cinta sejati bak kisah Romi dan Yuli, tak ada cincin yang menghiasi jari jemari, saat sang mempelai berkata lirih :
Saya terima kebodohannya yang telah sudi memilih saya dengan mas kawin sebutir permen tjap “janji tanpa bukti”, diangsur sampai mati.

Sang penghulu berkomat kamit memanjatkan doa seraya mencoba memberi petuah :
Bersatulah kalian dalam damai. Bila tak lagi suka dan ingin mengambil talak tiga, bersabarlah dan tunggu hingga 60 purnama.

Diantara temaram senja, telah disiapkan pula pesta kedua, pesta sunatan massal.
Bukan lantaran pekerjaan brutal ujungnya daging harus dipenggal, bukan pula karna ratusan anak yatim yang berjejal berharap dapat sarung, kopyah dan sandal.
Pesta sunatan massal ini murni ulah sang mempelai yang ingin mengembalikan modal. Tuk kembalikan rumah yang tergadai ataupun sawah yang terlanjur sudah dijual.
Anggaran disiasati, deretan data dimanipulasi. Tak peduli diluaran sana ribuan wajah tanpa dosa nampak kurus kurang gizi, tak peduli diluaran sana ribuan kaki harus berlari tuk mengais rejeki.

Diatas sebuah kursi, sebuah wajah tengah sibuk menghitung neraca laba dan rugi, seolah tak mendengar telepon jeritan hati berdering ratusan kali……………….

Iklan
Komentar
  1. LuxsMan berkata:

    Bingung-Bingung Aku memikirnya………………………

    *****

    Hehehe……..nek bingung ya golek gocelan.
    Soyo bingung maneh nek kakehen nguping lagu perdamaian oh perdamaian

  2. Novianto Puji Raharjo berkata:

    Wah…… pesta…pesta…..buang2 duit atau apa to namanya 🙂

    ***

    Weh, yo gitu itu cak nasib kita, selalu ketiban sampur, “menikah” dengan orang yang salah.
    Lepas dari buaya diterkam harimau. Lepas dari orba masih saja nasib kita serba tak menentu.
    Lha “suami” kita, para anggota dewan itu sibuk ngurusi nasibnya sendiri
    .

  3. gempur berkata:

    kiasan sastra yang kontekstual sekali dengan jamannya.. mengesankan akan tragisnya perpaduan yang tak sepadan.

    “Saya terima kebodohannya yang telah sudi memilih saya dengan mas kawin sebutir permen tjap “janji tanpa bukti”, diangsur sampai mati.”

    ***
    Saya sebenarnya sih agak berat merelease kata “kebodohannya” tapi apa mau dikata, begitulah realita yang ada.
    Banyak sekali saudara saudara kita dipelosok desa nun jauh disana, yang asal coblos tanpa pernah “mengenal” siapa orang yang tlah dipilihnya.
    Dan untuk itu mereka hanya menerima nafkah ala kadarnya, mungkin sembako satu kresek, mungkin juga sejumlah uang yang tak cukup dimakan hingga besok.
    Sungguh suatu pengorbanan yang gak sebanding, antara apa yang didapat dengan kerugian sosial, hukum en sejumlah kerugian lain yang harus ditanggung
    .

  4. bagus al haqq berkata:

    Bersatulah kalian dalam damai. Bila tak lagi suka dan ingin mengambil talak tiga, bersabarlah dan tunggu hingga 60 purnama.

    hmm.. bersatu dalam damai..
    jadi inget konsernya slank ama iwan fals
    *agak nggak nyambung ya komenku..?*

    ***
    Gak nyambung ?
    Lha ini mau disambung dulu pake kawat jemuran…….

  5. mantan kyai berkata:

    bersabarlah hingga 60 purnama. itupun jika kalian beruntung tidak memilih buto ijo sebagai pemimpin kalian….

    meskipun sekarang ada buto biru, buto abang, juga (dan pastinya) buto kuning, dsb (hehehe)

    ***
    Gak salah memang kalau ada yang memplesetkan dengan sebutan “cakil rakyat”, lha wong hobbinya nyathek sana nyathek sini.
    Merah, kuning, biru, hijau weh sami rawon.
    Nek wis “jumeneng” nang kursine, dolali karo pas ijab qobul, pas kampanye.

  6. Andy MSE berkata:

    pestanya meriah ya? hiks…

    ***

    Jelas meriah, lha wong sampe “tanduk” beberapa kali.
    Ada pemiliu walikota, pemilu gubernur, pemilu legislatif dan pemiliu presiden.
    Dibilang masih kategori negara setengah kere yo ben, yg penting pesta terus…………

  7. kawanlama95 berkata:

    Ini adalah realitas jadi bagaimana merubah yaitu dengan merubah pola berpikir. Pendidikan harus membumi dan melangit .
    Nilai moral ,etika dan kebersamaan . Merasa senasib sebangsa setanah Air .Oke thanks sudah datang ke aku

    ***
    Yups, aku sependapat dan aku rasa blog mungkin bisa dijadikan salah satu media untuk pembelajaran, untuk menambah wawasan.
    Disamping hal diatas tentu ada harapan lain, agar kita saling mengenal dan meningkatkan prosentase yang seperti sampean bilang, rasa senasib, sebangsa setanah air………….weh, iki lha sumpah pemuda jilid sekian, hehehe.

    trims juga mau mampir kesini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s