Bola kemiskinan

Posted: Mei 4, 2009 in xpresi

Benda tak bersudut itu dulunya hanya mengenal warna hitam dan putih saja. Kini sudah banyak tampil beda baik dari segi warna maupun coraknya. Tapi nasibnya tetap sama, tak mengalami perubahan.
Dia tetap jadi bahan rebutan dan ditendang kesana kemari oleh banyak orang.

Begitulah bunyi suratan takdir yang kadang terdengar kurang merdu terutama bagi kalangan yang bergulat dengan kemiskinan.
Sering kita dengar di media, komunitas kelas bawah ini merasa bagi bola yang ditendang kesana kemari saat mengurus sesuatu di suatu instansi. Mereka seakan tersesat di dalam ruwetnya alur birokrasi.
Mereka juga seringkali jadi barang mainan saat berlangsungnya pesta demokrasi. Dengan sejumlah uang ataupun sekantong sembako, nilai idealisme mereka coba dimainkan, diayun ayunkan agar roboh dan bisa berlabuh di tangan sang tokoh.

Didapuk nasib jadi kaum kere memang susah. Sebuah bukupun seolah mengamini dengan judul yang lugas, orang miskin dilarang sakit.
Mengapa ?
Bagi orang miskin, sakit adalah ibarat berlakunya pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Buat makan sehari hari saja susah apalagi buat beli obat dan bayar dokternya.

Kadang kemiskinan ini seolah dipelihara. Lihat saja dana BOS [biaya operasional sekolah] yang peruntukannya tak mengenal kasta, kaya miskin semua mendapatkannya. Demikian juga dengan subsidi BBM, siapa yang paling banyak menikmatinya ?

Diantara sederet derita, beruntungkah masih tersisa sedikit cahaya bagi kaum kere ini untuk tersenyum ceria.
Ada beberapa acara televisi yang mengemas kondisi mereka dan mengolahnya dalam suatu acara. Ada minta tolong yang memberi mereka sejumlah uang saku dengan syarat dan ketentuan berlaku, ada bedah rumah yang menyulap rumah tua menjadi penuh gaya, ada tukar nasib yang meliburkan mereka 3 hari lamanya dari kemiskinan.

Kemiskinan mungkin agaknya takkan mudah bisa dihapuskan karena ia adalah bagian dari sistim ekologi kehidupan sosial di muka bumi ini.
Peran untuk menjadi miskin memang dibutuhkan karena tanpa adanya kemiskinan takkan pernah ada yang namanya kekayaan.

Iklan
Komentar
  1. tciely berkata:

    belakangan dikampusku banyak sekali pengemis dan pengamen itu membuatku miris sekali, sebenarnya apa mereka itu benar2 miskin dan tak ada pilihan lain untuk bekerja yang lebih layak. diantara mereka (pengemis di kampusku) banyak yang masih muda. Aku lebih salaut pada tukang becak, pemulung dari pada peminta-minta.

    ***

    Kehadiran mereka, para pengemis memang kadang menjengkelkan, “mengganggu” ritual kita dalam menjalankan kehidupan, pas kuliah, pas makan di warteg…………..
    Tapi coba saja nikmati sisi positifnya, kita gak perlu jauh jauh kalau mau mendermakan sesuatu karena mereka sudah menerapkan sistim jemput bola, satu hal yang mengadopsi sistim marketing modern.
    Bisa jadi lho kehadiran mereka dikampus kamu sebenarnya sebuah penjajagan. Siapa tahu mereka ingin memperdalam ilmu mereka dalam hal pengemisan………….misalnya belajar akutansi [untuk mengelola hasil ngemis mereka], belajar filsafat tentang cara jadi pengemis yang baik…………hehehehe.

    Dan jangan kaget lho kalau ada diantara mereka yang jauh lebih kaya dibanding kita.

  2. haris berkata:

    kalo menurutku, acara2 tv kayak gt itu sebenarnya hanya melakukan eksploitasi kemiskinan sajah. sama sekali tidak menyelesaikan soal. acara2 itu kan mendapat keuntungan dg mengumbar kemiskinan seseorang. apa yg lebih kejam dari itu?

    ***

    Gak pakai mikir panjang…………..SETUJUUUUU !.
    Meski kesannya ada nuansa simbiosis mutualis namun aroma eksploitasilah yang lebih terasa.
    Produsen acara bisa menggaruk untung yang jauh lebih besar.
    Yah, hitung hitung cost yang sudah keluar anggap saja bayar artis sinetron.
    Tapi falsafah Jawa biasanya bilang, weleh untungnya…………………

  3. mantan kyai berkata:

    mari kita lawan realishit show !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s