Arsip untuk September, 2009

Ketika Romadhon Berlalu

Posted: September 21, 2009 in Pelita hati
Tag:, ,

Saat sore menjelang magrib di pojok pasar, suasana mendadak menjadi ramai. Sekawanan pedagang nampak berkerumun dan memilih menunda kepulangan. Sebagian hanya diam membisu tapi sebagian yang lain terlihat bercerita dengan penuh semangat, seolah berlagak jadi Bung Tomo baru.

Mereka nampak gayeng membicarakan seorang pria berbadan kekar dengan aneka asesoris tatoo di badannya. Mereka membicarakan seorang pria yang selama ini terkenal sebagai preman pasar, yang ngetop sebagai tukang bikin onar, yang populer sebagai ahli pembuat resek kelas wahid. Mereka membicarakan seorang pria yang kini sedang terkapar lemas meregang nyawa, meregang hobbynya dalam membuat resah banyak pedagang yang geram dengan aksi pajak gelapnya.

Tiba tiba seorang wanita berwajah kusut datang membelah kerumunan. Dengan isak tangis dan linangan air mata, dipeluk jasad sang jagoan seakan enggan berpisah. Sangat mungkin dia adalah kerabat, kekasih, atau malah belahan jiwa sang pria malang bertatoo. Aneh memang, kepergian seorang pria tukang bikin onar yang kehadirannya tak diharapkan oleh banyak orang masih saja menyisakan adegan melodrama. Masih saja ada orang yang tak rela dan menangisi kepulangannya ke alam baqa. Masih saja ada orang yang tak pedulikan sekian puluh orang disekitar yang tengah bersorak diatas jasad kasihnya atau malah mengucap lirih, alhamdulillah……telah kembali datang kemerdekaan yang telah beberapa waktu menghilang.

Datang dan pergi

Datang dan pergi

Kawan, bulan romadhon akan segera berlalu.

Bagi sebagian bahkan mungkin kebanyakaan orang, bulan romadhon tak ubahnya mirip preman pasar. Kehadirannya sering membuat onar, membuat tak nyaman acara sore maupun tidur malam kita. Ada shoalat tharawih ataupun sholat malam yang serasa jadi kewajiban. Kahadirannya kerap bikin resek, membuat kita tak lagi nyaman menerawang gambar panas ataupun film gituan. Kehadirannya tak jarang membuat resah karena acara gosip kita jadi tertunda dan tak lagi meriah. Kehadirannya selalu bikin masalah, setidaknya masalah jam makan kita di pagi hari.

Tergantung disisi mana berpijak, tergantung seberapa tinggi level taqwa kita, bulan romadhon memang bisa berwajah ganda. Apakah dia seorang preman yang kepergiannya tak patut disesali ataukah kekasih hati yang kepergiannya pantas untuk ditangisi, itu masalah hati nurani, Itu masalah pilihan.

Namun bila ada sebuah “pesan“, bila ada firman yang kiranya bisa buat bahan renungan, akankah kita tak harap dia kembali tahun depan ?

Semua amal ibadah itu untuk hambaku kecuali puasa itu untukku dan aku sendiri yang akan membalasnya.

Baginya akan ada 2 kebahagian, saat berbuka dan saat bertemu dengan Tuhannya.

***************************************************************

SELAMAT IDUL FITRI 1430 H.

MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.

Iklan

Tuhan & demokrasi

Posted: September 11, 2009 in Pelita hati
Tag:, , ,
doa
doa

Siang itu sekelompok orang nampak bergerombol, berteriak di depan sebuah masjid.

Apa mereka sedang antri zakat ? Tidak.

Apa mereka sedang antri takjil ? juga bukan.

Dengan mengusung sepanduk dan aneka poster mereka sedang berdemo di rumah Tuhan, sedang menuntut  Sang Penguasa Alam membuka kran demokrasi. Mereka berharap Tuhan berkenan mendengar dan mengabulkan sebuah permintaan : agar umat manusia yang lahir  diberi kebebasan untuk memilih orang tuanya masing-masing. Diberi otonomi untuk menentukan arah takdirnya sendiri.

Ketika Musa penasaran akan ranah ketuhanan, Dia “mengabulkan” dengan mengajaknya berdialog di bukit Tursina.

Ketika Ibrohim ingin menguatkan hati tentang hakekat kehidupan, Dia meluluskan. Seekor burungpun jadi kelinci percobaan dan menjadi ajang pembuktian bahwa menghidupkan sesuatu adalah semudah membalik telapak tangan.

Ketika Muhammad merasa umatnya akan keberatan dengan jumlah bilangan rokaat sholat yang ditetapkan, lagi lagi Dia tak berkeberatan untuk negoisasi ulang dan memberi banyak keringanan.

****************

Kian siang kian banyak yang memberi dukungan, kian semarak jumlah pendemo yang datang. Yel yel berbunyi bersahutan dari kiri dan kanan. Tiba tiba awan yang semula putih perlahan berubah warna. Panas yang serasa menggigit kulit berangsur sirna, tergantikan rasa gerah yang mampu membasahkan kemeja. Angin kini tak lagi menyapa, entah sembunyi dimana bersama siapa.

Sekelebat kilat menyambar yang diikuti dengan suara guntur memekakkan gendang telinga. Sebagian orang tiarap seakan tanpa daya, sebagian lagi orang menyimpan rasa takut diujung jantungnya dan tak sedikit yang spontan berteriak kencang : Allahu akbar……………….Dan belum pupus rasa kaget tinggal di hati, kembali datang sang kilat tuk kedua kali. Tanpa diminta semua pendemo hilang kesadaran, terkapar dalam pelukan.

****************

Kala temaram senja datang memberi salam, para pendemo mulai bangkit dari mimpi panjang nan kelam. Mereka kini berada di atas bukit, diantara tanah lapang yang luas terbentang, duduk diatas kursi yang tak ubahnya sebuah singgasana. Mereka kini menjadi Tuhan bagi diri sendiri.

Sejauh mata memandang hanya gersang tanpa batang pohon sebagai simbol kehidupan. Sejauh mata memandang hanya ada kertas putih berserakan. Sebait kalimat nampak tertulis diatasnya, bisa pujian bisa juga ungkapan tangis yang berkepanjangan, semua berujung pada sebuah doa dan permintaan. Ada yang inginkan harta, ada yang meminta wanita dan banyak pula yang mengharap tahta. Sungguh tak terbayang berapa lama bila harus satu demi satu membacanya apalagi harus mewujudkannya.

Kita manusia memang makhluq yang tak tahu malu, yang enggan bersyukur pada apa yang telah kita dapatkan. Ketika lampu padam barang sejenak, kita sudah gelisah, membakar amarah di dada. Ketika hati merasa sepi ditinggal sanak famili kembali ke pangkuan illahi, kita sudah merasa dunia ini terhenti. Ketika roda nasib berputar dan kita tetap bergulat dalam kemiskinan, kita sudah merasa Tuhan mengabaikan nuansa keadilan. Kita selalu berkeluh kesah.

Padahal kita pernah berlatih 9 bulan lamanya hidup dalam kegelapan, tanpa sedikitpun harta dan hanya berkawan dengan kesepian…………………….di dalam perut sang bunda. Padahal kita mengarungi kehidupan ini hanya berbekal harta pinjaman karena kita terlahir dalam keadaan telanjang.

Sayup sayup suara lembut membelai telinga, merasuki hati dengan sejuta kasih.

Bila ingin berniaga tanpa pernah alami kerugian dan selalu rasakan keuntungan, datanglah padaku.

Bila punya harapan dan inginkan derajat yang tinggi, datanglah di sepertiga malamku.

Bila ingin rasakan kemuliaan, genapkan puasa dan tunggulah malam yang lebih baik dari seribu bulan.

*

Ya, robb ku ampunilah segala dosaku dan jadikan aku orang yang senantiasa bersyukur padaMu.

Romadhon 21, 1430 H

Jin

Jin

Alkisah ada 3 orang sahabat terdampar di suatu pulau terpencil. Tanpa disangka salah seorang diantaranya menemukan guci ajaib yang berisi jin sakti yang baik hati. Sang jin menawarkan 3 permintaan yang akan langsung dikabulkan. Tanpa pikir panjang sahabat yang pertama langsung mengajukan permintaan bahwa dia ingin pulang. Sahabat yang keduapun mengajukan permohonan yang sama, ingin pulang. Dua permintaan sudah diekskusi dan tinggal 1 lagi. Sahabat yang ketiga bukannya mengajukan permintaan sebagaimana rekannya tapi malah menginginkan kedua orang temannya balik lagi, menemaninya di pulau terpencil tersebut.

Parodi diatas yang digagas oleh sebuah perusahaan rokok tersebut belakangan sering nongol di televisi. Tapi bagaimana seandainya guci itu memang ada dan sang jin menawarkan hal yang sama, 3 permintaan yang akan dikabulkan buat negeri kita tercinta agar bisa menjadi negara yang disegani dan tak menjadi bahan pelecehan oleh negeri tetangga ?

*****

Seorang menteri pertahanan segera mengajukan permintaan pertama, aku ingin negeri ini menjadi digdaya dengan persenjataan yang super lengkap. Dengan senjata ditangan dia bermimpi negeri lain akan berpikir dua atau tiga kali kalau ingin mengajak berkelahi.

Sang jin  segera mengeluarkan laptopnya, menghubungi google guna memperoleh sebuah deskripsi tentang negara super power. Muncullah Amerika serikat di link pertama. Yah, apa yang kurang sih dari Amerika ? rasanya semua senjata ada disana. Mulai yang diangkasa berupa satelit pengintai semacam KH-11 ataupun pesawat tempur kelas 1 sebangsa F-18 Hornet maupun F-117 , senjata di perairan berupa kapal induk maupun kapal selam nuklir yang bisa berlayar belasan tahun tanpa henti sampai wahana tempur darat tank Abrams dan aneka senjata balistik yang sekali blar bisa memanggang seisi kota.

Senjata memang menjadi bargaining power bagi Amerika dalam menggertak lawannya dan sejauh ini belum ada tandingan yang sepadan semenjak Uni Sovyet tewas beberapa waktu silam. Belum lagi gaya poltiknya yang suka main koboi yang tanpa rasa bersalah dan sepertinya kurang kerjaan, suka mengintimidasi dan menginvasi negeri lain dengan dalih pemulihan demokrasi. Jejaknya ada dimana mana, Grenada, Somalia, Vietnam, Korea, Irak, Afganistan dan hmmm sepertinya bakalan panjang daftarnya.

kapal induk

kapal induk

*****

Dari pojok ruangan dengan semangat menteri ekonomi dengan tangkas mengacungkan jari mengajukan permintaan kedua, aku ingin negeri ini punya ketahanan ekonomi yang kuat. Dengan bekal pondasi finansial yang kuat, sang menteri berharap negeri ini bisa mandiri dan tak hanya mampu mengekspor TKI.

Sang jin mengernyitkan dahi dan terbayanglah Republik Rakyat Cina. Yap, siapa sangka bahwa negeri tirai bambu, negeri komunis yang tadinya barangkali tergolong kere, terbelakang dan cuma punya modal rakyat segudang, secara perlahan mampu berevolusi menjadi salah satu negara dengan cadangan devisa terbanyak didunia. Lihat saja banyak peralatan elektronik yang dibelakangnya bertuliskan made in China dan salah satu sahamnya sempat mampir di negeri ini dalam wujud sebuah jembatan di selat Madura. Seakan mirip dengan prosesor dual core, mereka mampu berimprovisasi dan tanpa rasa malu mengawinkan antara minyak dan air, antara komunis dan kapitalis dengan sukses, sementara negeri komunis lain yang segan untuk berubah dan tetap setia pada pakem, semacam Kuba dan Korut tetap dalam takdirnya sebagai negeri yang terbelakang baik sosial maupun ekonominya.

dollars

dollars

*****

Suasana menjadi hening sejenak. Semua yang datang nampak menunggu siapa kiranya yang akan tampil sebagai peminta permohonan yang ketiga. Tak sedikit yang menduga bahwa menteri Hukum dan Kehakimanlah mungkin yang akan segera mengangkat tangan dan berharap sang jin akan mengabulkan permintaan agar keadilan bisa tegak berdiri di negeri ini. Yah, siapapun tahu bahwa negeri yang kuat secara militer maupun ekonomi sangat mungkin akan menghitung hari bila tiada keadilan dalam kehidupan bernegara dan berbangsanya.

Kita mungkin masih ingat Iran saat dibawah kekuasaan rezim Shah Reza. Suatu negara yang kala itu militernya adalah salah satu yang terkuat di Asia akhirnya tumbang oleh revolusi yang dipimpin oleh Khomeini. Masih segar juga dalam ingatan sebuah negeri bernama orde baru yang rancang bangun ekonominya pernah disebut sebagai macan Asia baru namun riwayatnya berakhir oleh people power, oleh gerakan reformasi. Aroma keadilan kala itu barangkali menjadi komoditas yang langka, tertelan oleh derasnya arus korupsi, kolusi dan nepotisme.

Tiba tiba seorang pria berkopyah yang sedari awal nampak menikmati tidurnya dengan santainya mengangkat tangan dan berteriak lantang, aku ingin mereka balik. Banyak hadirin yang terperanjat dan heran dengan ulahnya, orang ini nyambung nggak ya atau barangkali terpengaruh oleh jawaban yang sama di iklan televisi. Kemuliaan sebuah bangsa dengan senjata ditangan kanan dan segepok dollar di tangan kiri yang sudah didepan mata mau dibalikin begitu saja.

negeriku

negeriku

Sebelum rasa heran khayalak habis, sang pria berkopyah kembali meneruskan dan mengulang bicaranya : yah, aku ingin mereka balik. Aku ingin Gajah Mada dan Hayam Wuruk balik untuk memimpin negeri ini. Aku ingin kemakmuran, keadilan dan harga diri sebuah bangsa yang lewat Palapa pernah menghiasi tinta emas negeri ini bisa kembali hadir disini, di nusantara.