Arsip untuk Oktober, 2009

the dreams

Kursi belum terisi penuh saat aku masuk ruangan. Sesi training yang kebetulan aku ikuti belum lagi dimulai, sambil agak selonjorkan badan melepas lelah aku mencoba mengamati sekeliling dan sepasang mata ini terhenti pada sebaris tulisan, MAKE A DREAM WHILE YOU’RE AWAKE. Hmm, aku agak lama mencerna makna tulisan ini dan tanpa terasa alam bawah sadarku terbang kemasa lalu.

terbang bak burung

Dalam mitologi Yunani kuno tersebutlah Daedalus dan putranya Ikarus yang mencoba melarikan diri dari penjara di pulau Kreta. Mereka menempelkan bulu-bulu burung di badannya dengan lilin sebagai perekat untuk menyeberangi lautan. Dalam pelariannya Daedalus sempat berpesan kepada sang putra agar tak terbang terlalu tinggi tapi nampaknya Ikarus lupa akan nasehat sang ayah. Dengan pongahnya dia berakrobat diangkasa, jungkir balik, naik turun dengan riangnya hingga datanglah bencana.

Sengatan sinar sang surya perlahan melelehkan lilin dan merontokkan bulu yang ada helai demi helai. Ikaruspun kehilangan gaya angkat juga hilang keseimbangan. Tubuhnya jatuh, meluncur deras menghunjam bumi. Ikarus harus pergi untuk selama-lamanya, tewas dalam kesombongan diri.wow

Mimpi Daedalus untuk bisa terbang laksana burung harus bersabar hingga ratusan bahkan ribuan tahun sampai Wright bersaudara “sukses” mengawali mimpi mereka menjadi nyata. Selanjutnya perlu gotong royong, butuh kerja kolektif antar generasi umat manusia dimuka bumi ini, lintas bangsa, lintas negara sebelum akhirnya bisa terwujud seperti yang kita lihat kini. Mimpi untuk terbang solo sekarang semudah membalik telapak tangan, bisa dengan parasut, dengan paralayang ataupun gantole. Juga keinginan terbang secara berjamaah dengan pesawat dari yang berukuran mini hingga yang jumbo jet sekarang tidaklah susah. Bahkan mimpi itu sudah melewati batasnya, melampaui apa yang mungkin diimpikan oleh burung itu sendiri.

ahhh

Mungkin bagian yang tak mudah adalah bagaimana menyisihkan waktu untuk memahami, untuk menyadari adanya proses kreatifitas yang terus tumbuh, akumulasi kerja keras yang terus bergulir, yang dibutuhkan dalam proses membangun sebuah impian menjadi kenyataan. Banyak dari kita yang seringkali hanya membingkai mimpi yang dimiliki dalam sebuah partisi ajaib dimalam hari, membelenggu dalam lamunan yang tak pernah dikonversi menjadi langkah konkret menuju tanah harapan. Tak sedikit yang berharap akan datangnya sebuah keajaiban, tak sedikit yang menganggap semuanya bisa diraih dengan cara yang instan, bisa terlaksana dalam semalam. Kita bukanlah Bandung Bondowoso, sang tokoh dalam pembangunan seribu candi.

Aku mencoba mencubit diri sendiri, mencoba membangkitkan jiwa yang mungkin tak punya gairah. Aneh, tak sedikitpun terasa sakit. Aku jadi ragu, jangan jangan  sekarang aku dalam mimpi mode on, sedang tertidur dalam menjalankan ritual kehidupan. Mata memang siaga namun hati ini, hasrat yang aku miliki sedang terlelap dalam hiruk pikuk dunia yang berjalan kian cepat dari waktu ke waktu.

Make a dream while you’re awake.

Ah, aku sedang merenung apa maknanya……………………………………………..

Iklan

Aku……..

Posted: Oktober 23, 2009 in xpresi

broken days

broken days

Aku,

Bukanlah simbol kehidupan.

Bukan pula barang pajangan,

Kutak pernah sesali diri

Meski diitakdirkan jadi makhluq pingitan,

Yang slalu terdiam,

Terkurung dalam lubang kegelapan.

Aku,

Takkan salahkan nasib ini,

Walau desah nafas habis tuk menghitung hari.

Menanti datangnya lambaian perpisahan ,

Ditangan kerling pria pemuja kenikmatan.

Atas nama cinta,

Kubisa mati muda.

Atas nama Dia diatas sana,

Kudapat berkedip lebih lama.

Dan demi sebuah cita,

Juga rasa kecewa yang menggurita

Kubisa senisan dengan sang bunda.

Aku,

Saat menunggu denting lonceng kematianku,

Srasa ingin berganti warna, ingin berganti baju,

Hijau, ungu ataupun biru,

Mungkin juga batik seperti warisan negeriku.

Dan tak lagi hanya merah,

Yang hanya membuat pria berjakun berteriak puas,

Pertamaaaaax…………….

Aku,

Harus bergulat dalam derita, meregang nyawa.

Diantara swara tangis dan senyum bahagia.

Diantara butir keringat dan hening malam berbunga.

Yang untuknya aku ada dan tercipta.


*********


P E R I N G A T A N  !!!

SEBELUM MENINGGALKAN POSTING INI

HARAP DIPERIKSA BARANG ANDA

JANGAN SAMPAI HILANG ATAU KETINGGALAN

Abu Jadul

Posted: Oktober 15, 2009 in xpresi
Abu Jadul

Abu Jadul

Perkenalkan nama saya Abu jadul.

Saya seorang pria yang suka mengembara, menikmati hidup ini apa adanya.

Saya barusan bangun kemarin seusai tertidur pulas hampir 40 tahun lamanya.

Saya kaget bukan kepalang melihat kehidupan yang sedang berjalan mengalami banyak perubahan. Di banyak tempat saya lihat tak sedikit orang yang seolah hendak gantung diri tapi setengah hati. Mereka hanya melilitkan seutas kabel kecil  dan bukan sepotong tambang, mereka pakai dikepala dan bukannya dijeratkan dilehernya.

Dijaman saya orang yang gantung diri juga banyak tapi seringnya ditanah lapang, dimedia. Mereka menggantung harapan orang lain saat berkampanye, mereka menggantung sgala janji menjadi tak mudah terealisasi. Mereka sadar bahwa mereka tak mau dan bisa jadi tak mampu memenuhi janji itu karena mereka hanyalah tak lebih dari sekumpulan tukang tipu. Mereka setengah hati karena ibarat buah simalakama, tak ucapkan janji alamat tak ada yang akan memilih, kalau berjanji itu serasa mustahil untuk dipenuhi.

Saya melihat banyak orang yang bicara sendiri, tak jelas kepada siapa. Kadang disertai senyum dan tak jarang diselingi tawa canda. Sebagian diantara mereka menjepret sekeping plastik didaun telinga. Yang tergolong elit alias ekonomi sulit, harus puas dengan menyisipkan segenggam benda dibalik helmnya.

Dimasa saya, orang yang bicara sendiri tidak dijalanan, bukan juga dimall yang gemerlapan. Mereka bicara sendiri di gedung dewan. Sekawanan orang didalamnya suka bicara sendiri dan cenderung berbisik, tak pedulikan jutaan orang yang pernah menitipkan suara kepadanya. Tak sedikit undang-undang yang disahkan tanpa pernah kita tahu kapan dibicarakan, kapan diperdebatkan. Kita tak pernah ditanya dan sangat mungkin memang tak dibutuhkannya.

Di sebuah taman saya melihat banyak orang yang sedang lesehan, menatap sebuah kotak dengan sebingkai layar diatasnya. Mereka kadang nampak sibuk mencolokkan sebuah benda sebesar ibu jari dalam sebuah lubang dibaliknya.

Dijaman saya tak sedikit orang yang berlabel abdi negara yang gemar mencolokkan kedalam sebuah lubang sebuah benda, bukan saja sebesar ibu jari tapi memang ibu jari bahkan anak jari mereka sendiri kedalam lubang telinga. Mereka tengah mengorek kotoran yang ada agar mampu mendengar lebih jernih, mampu menampung luapan asa dari kita yang tinggal dibawah.

Terlalu lama mereka tinggal didalam sangkar Farraday hingga suara kita tak mudah sampai, terlalu lama mereka bergaya sebagai raja hingga kita harus siapkan upeti sebagai umpannya. Kita disuruh datang mengikuti alur birokrasi yang sengaja dibuat berbelit seperti ular agar segala urusan bisa diurus oleh sang makelar. Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah ? begitu sebuah ungkapan yang sangat populer.

Saya lihat sekarang jalanan banyak kemacetan. Banyak kendaraan dengan mesin menyala yang tak dapat kemana-mana, maju susah mundurpun tak bisa.

Dulu jalanan nampak sepi, mobil satu dua dan hanya sepeda angin yang melintasi, bahkan tak jarang lewatlah gemulainya roda pedati. Yang namanya kemacetan cuma ada didunia ekonomi. Banyak orang bergelar sarjana tapi tak dapat kerja, banyak yang pergi ke ibukota tapi hunian tepian sungai yang didapatnya.

Pepatah sakti, habis gelap terbitlah terang tak ubahnya sebuah parodi. Masa terang itu mungkin tak pernah ada karena yang tersisa hanyalah kegelapan abadi. Dana yang semestinya untuk membuat hidup ini lebih sejahtera telah terkuras kekantong pribadi, amblas tuntas habis dikorupsi.

Sayup sayup kudengar sebuah lagu…………..

Habis bangun tidur lagi,

Kalau ingin umur panjang perbanyaklah minum kopi.

Ah, ada ada saja.

Aku memang ingin tidur dan bangun 40 tahun lagi.

flu baBI, suhaeBI & miyaBI

Posted: Oktober 14, 2009 in xpresi
Tag:, ,
miyabi dan kawan-kawan

miyabi dan kawan-kawan

Meski ada perbedaan dalam skala luas penyebarannya, ketiganya punya persamaan yakni sebagai news maker. Persamaan lainnya adalah ketiganya bisa membangkitkan demam pada korbannya dengan ending yang berbeda.

Pada BI yang pertama demam yang ditimbulkannya bisa berujung pada kematian. Bermula dari sebuah negara koboi, Meksiko, wabah itu menjalar ke seluruh jagad tanpa belas kasihan dan sempat menimbulkan rasa panik. Sang babi sungguhan yang kadang tergolong sehat tanpa ampun harus diekskusi tanpa pernah diberi kesempatan untuk mendengar kalimat : apa permintaan yang terakhir ?

Pada BI yang kedua gejala demamnya hanya bersifat lokal, yaitu pada seorang artis cantik yang tepatnya seorang biduan. Suhu badannya meningkat, emosi nampak mendidih saat mengetahui sang suami berdua bersama wanita lain. Kisah asmara 2 anak manusia itu berakhir di kantor polisi juga di kantor Pengadilan Agama.  Sedang pada BI yang terakhir, rasa demam yang terjadi amat bervariasi tergantung pemahaman masing-masing.

Bagi yang pernah menikmati image apalagi videonya tentu siklus demamnya akan naik turun mirip pelana kuda, tak jauh beda dengan DBD. Di mulai dengan hormon kejantanan yang meningkat dan dilanjut dengan kejangnya otot mata karena terlalu lama melotot. Pola naik-turun demam mungkin relatif stabil tapi ada sebuah device yang latah ikutan naik turun kayak laju inflasi.

Bagi yang hanya dengar dengar saja atau katanya, demamnya seperti profil sebuah bukit. Akumulasi penasarannya akan terus meningkat. Belasan dan mungkin puluhan situs akan dijelajahi guna membuat semua yang semula berversi katanya bisa menjadi lebih nyata. Selanjutnya sudut elevasinya akan menurun dengan  tingkat kemiringan antara yang satu dengan yang lain mungkin berbeda. Yang jelas semua nantinya berujung pada satu kata, ah bosan, sudah pernah lihat.

Komunitas yang terakhir memahaminya dari sudut pandang yang berbeda. Mereka menganggap BI yang ini sebagai kendaraan untuk sebuah eksistensi diri. Mereka lebih suka pakai pendekatan who’s she daripada what’s she do. Demam yang mereka derita tak pernah bergeser dari kepala yang hanya bisa dikompres dengan sepenggal kata, dia juga seorang anak manusia yang punya salah dan dosa. Siapa tahu suara adzan dari surau di kejauhan akan mampu merubah segalanya. Siapa tahu suatu waktu nanti  akan berkunjung lagi kesini seorang wanita cantik, hajjah Maria Ozawa.

Nada getar ?

Pasti kita sudah mengenalnya, itu salah satu cara ponsel memberitahu kita bahwa ada pesan yang lewat, ada panggilan yang datang ataupun buah kerja dari sistim reminder yang sedang berjalan.

Pada hari Rabu, 30 September yang lalu di belahan Sumatera, ada nada getar dengan kekuatan 7,6 SR. Vibrasinya cukup kuat untuk merobohkan gedung juga cukup besar untuk membuat banyak orang pontang-panting berlarian mencari jalan keselamatan.

******

Apakah ada pesan yang lewat ? Mungkin ya.

Barangkali itu cara Sang Penguasa Alam menanadai pesan bagi kita bahwa senantiasa ada harapan diantara kesempitan, senantiasa ada kehidupan diantara reruntuhan.

Tak sepatutnya kita meratapi diri, berkeluh kesah sepanjang hari dan menyalahkan suratan takdir yang terjadi. Selalu tersembunyi hikmah dibalik musibah.

Awan tak selamanya mendung. Bak roda pedati, nasib memang bisa silih berganti. Bila kita alami hitam hari ini, mungkin esok putih yang temani.

******

gempa sumatera

gempa sumatera

Apakah ada panggilan yang datang ? Itu pasti.

Sejauh ini telah ada ratusan orang yang menerima undangan kematian. Tak ada partisi antara yang jahat dan yang baik hati, antara si kaya dan yang miskin harta. Semua sama, tak bisa menolak, tak bisa meminta penangguhan. Kita memang sedang menghitung hari.

Lintasan waktu barang sedetik tentu amat berharga dalam pertandingan yang tak jelas kapan akan berakhirnya. Sangat mengherankan bila ada yang menyia-nyiakan durasi hidup yang tersisa dengan perilaku yang kurang berguna.

******

Apakah ada peringatan ? Bisa jadi.

Mungkin Dia sedang mengingatkan kalau kalau kita lupa dan melupakan sesuatu.

Kita barangkali lupa menunaikan zakat, lupa menggenapkan sholat, lupa kapan saatnya bermunajat, lupa bagaimana cara menghentikan maksiat, lupa , lupa……….ah, terlalu panjang daftar yang bisa dibuat. Memang kita terlahir dengan fitur lupa  tapi itu bukanlah bug dari sebuah proses penciptaan.

Rasa lupa itu sesungguhnya berguna untuk melupakan keburukan, menghapus kedzoliman yang pernah kita terima. Bila rasa lupa tak pernah ada, yang tersisa hanyalah rasa dendam hingga tujuh turunan, yang ada hanyalah pengulangan legenda Ken Arok dan kawan-kawan.

*****

Rrrtt rrrrt rrrrt rrrrt………..

Cobalah periksa, siapa tahu ada ada pesan, ada panggilan atau peringatan yang datang.

Perlu layar hati yang penuh warna, yang penuh kearifan.

Perlu layar hati yang lapang, yang sarat dengan keikhlasan.

Untuk membaca makna nada getar yang ada.

*****

UNTUK  SAUDARA  KITA YANG TERTIMPA MUSIBAH DI SUMATERA, SEMOGA DIBERI KEKUATAN IMAN DAN KETABAHAN DALAM MENGHADAPI COBAAN.

Mangewu

Posted: Oktober 1, 2009 in xpresi

mangewoe

Melihat gambar diatas bayanganku melayang dalam lamunan.

Mencoba menebak apa yang sekiranya bisa aku dapatkan.

koran n esteh

koran n esteh

tempe penyet

tempe penyet

ngenet

ngenet

mak plung

mak plung

mbecak

mbecak

Hmm, bagaimana dengan anda ?