Pertahanan kolektif

Posted: Desember 9, 2009 in xpresi
Tag:, , , , ,

komuniti

Sekawanan semut diantara rerumputan tengah dirundung gelisah. Daun terakhir dimusim gugur telah jatuh dan itu berarti bilangan waktu sudah habis. Masa untuk mengumpulkan makanan sudah berakhir dan saatnya mempersembahkan pada sang penguasa, segerombolan belalang dibawah kepemimpinan Hooper. Nasib kelam seperti itulah yang terjadi dari waktu ke waktu. Hidup tertindas dan hilangnya sebuah kemerdekaan.
Hasrat untuk melawan barangkali sempat mengendap dibenak mereka tapi apalah daya, belalang bukanlah lawan yang sepadan bagi tubuh mereka yang jauh lebih kecil………hingga suatu waktu terlahirlah  pahlawan, terlahirlah semut yang berani memberontak, melawan takdir kehidupan. Keberaniannya ternyata menjangkiti semua penghuni koloni untuk melawan sebuah hegemoni.
Demikianlah jalinan cerita dalam The Bug’s Life yang dipentaskan dengan apik oleh Pixar. Sebuah film anak-anak yang hikmahnya tersembul keluar hingga lintas usia.

Potret yang hampir sama, dari dunia yang berbeda sempat terjadi di negeri para dewa. Yunani bukanlah apa-apa di belantara sepak bola Eropa. Tak punya pemain yang termahal bahkan liga mereka tak bisa kita saksikan karena bisa jadi menurut ukuran bisnis televisi tak layak jual. Namun siapa sangka kiprah mereka di piala Eropa menorehkan sebuah sejarah, membawa pulang mahkota juara.

Seorang Prita mungkin bukanlah apa-apa dan juga bukanlah siapa-siapa. Dia tak ubahnya semut ditengah taman, nampak lemah untuk melawan ganasnya takdir kehidupan. Panggilan nurani telah membawa banyak mata hati membentuk pertahanan diri berdasarkan azas kolektivitas sebagaimana Yunani melawan semua  rintangan yang dihadapi.

Sebuah takdir atau mungkin bisa juga sebuah kedzoliman seringkali tak bisa dilawan dengan hanya satu jari. Butuh sebuah komuniti, butuh jari-jemari yang saling bersinergi agar kata kata dalam sebuah iklan…….bunyinya nyaris tak terdengar, itu memang tak akan terdengar lagi. Kita tak ingin selamanya menjadi obyek penderita.

Mendung diatas langit seorang Prita kini perlahan mulai memutih tapi pertahanan kolektif  tak seharusnya berakhir hanya sampai disini. Diluaran sana takdir kehidupan masih menyisakan sebuah ketidakpastian bagi kita semua. Ada nuansa ketidak adilan, ada kemiskinan, ada mafia kejahatan, ada banyak simbol-simbol kegelapan lainnya yang menyelimuti kita dan perlu kebersamaan untuk melewatinya. Meminjam bahasa seorang Wiji Tukul, hanya ada satu kata.………………………………………….

Iklan
Komentar
  1. alamendah berkata:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Keadilan terkadang sulit ditemukan di negeri ini tetapi bukan berarti kita harus mengutuk sang negeri palagi menyerah

  2. bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh
    frase yang sudah lama dan sering kita dengar saat sekolah dulu dan sering diplesetin menjadi ‘…, bercerai kita kawin lagi’ :p.
    frase ini sangat tepat untuk menggambarkan seberapa besar kuat dan berpengaruh jika kita memang benar2 bersatu dan bersama2 berupaya / berjuang.

    Cara Membuat Web

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s