Gajah diantara Prita

Posted: Desember 12, 2009 in xpresi

buanglah sesuatu pada tempatnya ?

Binatang apa yang belakangan ini paling sering dibicarakan ?

Jawabnya tentu saja gajah. Lho koq ?

Yah, lihat saja di sudut-sudut taman, dipinggir jalan atau mungkin di suatu kantor pasti sering kita lihat tulisan GAJAHLAH KEBERSIHAN.  Terus apa hubungannya dengan Prita ?

Harapan yang terkandung dibalik tulisan gajahlah kebersihan so pasti agar kita bersedia membuang sesuatu pada tempatnya, semisal itu sampah ya seharusnya pada tempat sampah yang telah disediakan. Kalau nggak ya bakalan timbul masalah atau barangkali bisa berlanjut menjadi komplikasi.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui, beberapa waktu yang lalu seorang netter mempunyai keluhan tentang pelayanan sebuah instansi kesehatan dan menuliskan dalam sebuah email. Tanpa disangka ternyata keluhan ini oleh pihak RS dipermasalahkan dan berujung pada pengadilan. Oleh pengadilan keluhan ini dianggap tidak pada tempatnya, dianggap melanggar hukum baik pidana maupun perdata. Pengadilan negeri memutuskan sang netter, Prita didenda 312 juta yang selanjutnya oleh pengadilan tinggi didiskon menjadi “hanya” 204 juta.

Weleh, rong atus papat yuto iso nggo ngenet pirang wulan yo ?

Bila ingin membuang sampah seharusnya pada tempat yang telah disediakan yaitu tempat sampah, bagaimana bila ingin membuang suatu keluhan agar hati ini plong ? Coba bayangkan berapa meter kubik volume sampah psikis  orang se Indonesia bila tak tertangani dengan baik ?

Aku pikir keluhan ini termasuk sampah juga meski dalam versi yang berbeda, yang termasuk kategori sampah kejiwaan, yang bila tak segera dibuang bisa menyebabkan timbulnya penyakit. Minimum ya sakit kepala ataupun sakit hati. So sampah psikis ini seyogyanya di carikan wadah yang legal sebagai tempat pembuangan akhir agar tak banyak orang yang sering-sering mengelus dada ataupun menggaruk kepala tanpa sebab.

Saya kurang tahu masalah tempat sampah ini otoritas siapa, depkes sebagai lembaga yang bertanggung jawab memelihara kelestarian kesehatan rakyat ataukah dephum sebagai pemegang amanat masalah justisia. Saya juga kurang mengerti bagaimana bentuk fisik dari tempat sampah tersebut, menganut moderenitas dengan mengadopsi TI berupa penyediaan mailbox ataukah bergaya dunia lama dengan cara menuliskan segala keluhan pada secarik kertas, ditempelin perangko dan mengirimkannya ke alamat jalan Larakan gang mambu.

Yang jelas cara yang terakhir ini punya implikasi yang luas terhadap pertumbuhan ekonomi mikro dan makro sekaligus. Perangkonya dapat menghidupkan lagi PT POS sementara kertasnya bisa membuat umur para pemulung bertambah beberapa hari. Dan bagi dunia asuransi ini jelas lahan bisnis baru berupa perlindungan terhadap bahaya tuntutan balik.

Siapa sih yang ga ingin ngeblog dengan aman, yang tak ingin ngemail dan posting tanpa ada perasaan was-was ?

Kalau aku sih ingin ketemu Vierra saja, dengarlah curhatku.…………………………………………..

Iklan
Komentar
  1. alamendah berkata:

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Keluhan juga perlu disalurkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s