Posts Tagged ‘indonesia’

Perangkat komputer hanyalah seonggok benda mati dan operating sistimlah yang mampu membuatnya seolah hidup. Cukup banyak operating sistim yang telah dicipta namun rasanya hanya 3 yang memiliki pengguna terbanyak dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kita mengenal Windows yang begitu populer sekaligus familier dan mungkin juga paling user friendly karena bisa jadi kita yang paling dulu mengenalnya. Kita juga mengenal Mac yang tampilan grafisnya begitu memukau dan yang terakhir adalah Linux sang penantang yang terlahir dari dunia open source.

Adakah operating sistim yang menawarkan keindahan grafis yang wow, yang begitu user friendly dan yang terpenting “free” ? Mungkin anda akan geleng-geleng kepala karena sejauh ini memang sepertinya belum ada operating sistim yang merupakan perkawinan antara ketiganya. Tapi saya melihat hal itu bukanlah impian. Cobalah kunjungi situs awu-awu berikut ini,

http://galaxi bima sakti/tata surya/planet bumi/asia/indonesia/download.html

Anda akan mendapatkan semua yang mungkin kita impikan.

Yups, siapa sih yang tak mengenal eloknya sebuah negeri yang terletak diantara 2 samudra dan 2 benua ini ? Bak mozaik yang jatuh dari surga, negeri ini diterangi dengan gemerlap cahaya. Manik-manik keindahan terlukis jelas dalam setiap sisi peradaban, dalam relung alam yang membentang. Bali yang begitu eksotis, batik dengan segala motifnya, kilau emas dihamparan bumi Papua, komodo yang mengundang misteri, keragaman bahasa hingga reog yang penuh magis, semua menawarkan pesona yang banyak negeri lain serasa kurang beruntung tak bisa memilikinya.
Aura keindahan itu bahkan menjalar kedalam drama perseteruan antara 2 lembaga negara beberapa waktu yang lalu. Lakon yang sempat digelar dengan label Cicak lawan Buaya itu bisa dipentaskan dengan penuh kesan, penuh tanya dan bisa menghibur kita untuk beberapa pekan lamanya.

User friendly ?

Ah, terlalu banyak fitur itu yang kita punya, Seja dulu kita memang terkenal sebagai bangsa yang lekat dengan keramahan, yang selalu terlukis dalam senyuman. Sebuah buku yang mengupas tentang history seorang pembesar negeripun diberi judul The Smilling General meski bagi sebagian anak negeri senyuman itu terasa satir dan pahit untuk ditelan.

Kita memang bangsa yang user friendly full. Lihat saja para pahlawan devisa yang mencoba berkelit dari bunyi sebuah pepatah hujan emas dinegeri orang masih enak hujan batu dinegeri sendiri. Mereka kadang harus pulang dalam derita, upah yang tertunda, wajah lebam sampai hanya tinggal jasad semata.

Semua membisu, terdiam dalam kesibukkan, menganggap itu hal yang biasa, terserah apa kata usernya saja…..what do you want to do, we will do it. Sebagai sebuah bangsa kadang dan barangkali kita cenderung lemah dihadapan bangsa lain. Ada sebuah potret yang membuat hati ini terluka, ketika presiden menanda tangani sebuah nota sementara bos IMF berkacak pinggang disampingnya.

About free and open source ?

Tak sedikit cerita tentang free dan open source ini. Yang lagi hangat tentu saja cerita tentang ribuan nasabah sebuah bank swasta yang nasib uangnya tak jelas juntrungnya. Aneh bin ajaib mirip adegan sebuah acara sulap, sebuah bank yang selama ini diyakini sebagai tempat teraman untuk menyimpan uang ternyata bertingkah bak aplikasi open source. Kode-kode untuk membobol uang nasabah terbuka untuk banyak orang dan berstatus free untuk dibelokkan arahnya.

Bukan salah bunda mengandung bila sebagaimana halnya Windows yang kadang manyampaikan pesan adanya file yang korup, kehidupan kita dalam bernegarapun mengalami cerita yang sama. Apa yang salah ?

Berulang kali kita melakukan repair dan mungkin juga reinstall, 20 Mei 1908 dengan tajuk kebangkitan bangsa, 28 Oktober 1928 dengan mengusung tema Sumpah Pemuda hingga yang paling heboh 17 agustus 1945 dengan acara memformat ulang kehidupan berbangsa, meremove segala sesuatu yang berbau Belanda, tapi pesan file yang korup tak kunjung musnah. Operating sistem kita tak kunjung berjalan sesempurna harapan yang ada.

21 Mei 1998, sebuah revolusi kecil kita lakukan, yang barangkali sudah geram dengan segala apa yang terjadi, sudah putus asa dengan guratan nasib yang sedang kita jalani. Awalnya seolah  kita sedang membuat restore point baru tapi nampaknya hingga satu dasawarsa terlewatkan, alunan kisah tentang badai pasti berlalu, masih terlalu pagi untuk dibicarakan.

Komputer memang hanya sekumpulan benda mati dan perlu operating sistem untuk menghidupkannya. Perlukah setiap perangkat dilengkapi sistim tersendiri agar bisa menjalankan kehidupannya, agar nasibnya tak tergantung kepada sebuah operating sistem ?

Tanyalah pada lubuk hati diri sendiri. Negara kadang kurang peduli lagi. Menggantungkan nasib mungkin mirip dengan sebuah pertaruhan………….